Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 39 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 39 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 39 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Tak Terlupakan
BERBAJU kemeja lengan panjang, pantolan abu-abu, dan terompah dari kulit
berwarna cokelat, Paman tak tampak seperti seorang juragan warung kopi. Ia lebih
seperti seorang eksekutif setengah baya dari sebuah BUMN, yang mengambil pensiun
dini persis pada posisi puncak, karena telah menemukan jati diri dan ingin
menghabiskan sisa usia---dan uang kaget yang banyak---untuk hal-hal yang lebih bersifat
hakikat.
Kuamati, sesungguhnya pamanku adalah lelaki yang tampan. Ia mirip aktor
kawakan Alfred Molina, paling tidak 20 atau 25 tahun yang lalu. Tubuhnya tinggi dan
ramping. Sedikit melengkung, mungkin karena gangguan kesehatan yang akut
belakangan ini. Meski sekarang tak banyak lagi alasan untuk tetap menyebutnya
tampan, namun wajahnya yang panjang masih menawan dan merupakan satu wajah
yang senang tertawa. Dalam keadaan kesehatan selangkang stabil dan saatsaat pemerintah---terutama menteri pendidikan---tidak
menjengkelkan hatinya, wajah Paman selalu tampak seperti orang ingin membaca
deklamasi. Dipadukan dengan bentuk dagunya, tak satu hal pun menyatakan ia seorang
pemarah. Secara singkat, Paman bisa disebut berwajah sastrawi.
Namun, yang mentransformasikan Paman dari---siapa pun kepribadian yang
tengah menguasainya---tidak hanya pakaiannya itu, melainkan
Seorang perempuan yang menyampirkan tangan di pundaknya, tak lain bibiku yang
anggun. Ketika Bibi menyampirkan tangannya tadi, Paman melemparkan satu kesan
pada kami bahwa: Bibi kalian ini, akan beres semua urusannya, jika bepergian bersamaku!
Sebab aku adalah lelaki yang becus! Atau, Midah, Hasanah, Rustam, Ikal! Kalau kalian
mau melihat lelaki yang sukses dalam asmara, di depan mata kalian inilah contohnya! Sementara
kalian! Tak lebih dari kacung!
Aku dan Rustam, serta-merta merebut tas-tas besar. Aku, merebut tas dari
pegangan Paman, dan Rustam dari pegangan Bibi. Sebab, dari pengalaman kami
telah belajar, yaitu Paman sering muntah jika ingin bepergian. Ia sangat rewel soal
apa yang harus dikerjakan selama ia tak ada. Namun, kali ini jiwanya sedang lapang.
Ia tersenyum-senyum simpul dan kami berjalan terseok-seok di belakangnya dibebani
tas-tas yang besar. Kami menuju dermaga.
Paman dan Bibi akan naik perahu ke Pulau Sekunyit. Berlayar selama dua sampai tiga
jam
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
untuk mengunjungi perhelatan pernikahan anak dari salah seorang sahabat Bibi.
Mereka akan menginap selama 3 hari di pulau itu. Hal itu kami sambut dengan penuh
sukacita.
Bayangkan, 3 hari tanpa Paman! Saat-saat semacam ini biasanya kami namakan
liburan dari surga sebab selama ada Paman, jangankan salah, sesuatu yang
benar dikerjakan sekalipun, bisa saja dimarahinya. Marah bukan lagi soal salah dan
benar bagi Paman, tapi gaya hidupnya.
Maka, kami, kaum jongos, sekarang meraja di warung kopi. Tak ambil tempo,
pulang dari dermaga Rustam langsung menguasai kursi malas Paman. Lalu ia
meniru-nirukan gaya Paman kalau sedang menghinanya.
“Jika kutengok dari bentuk hidungmu, Tam, kecil harapan aku bakal dapat istri.
Aku saja melihatnya, tertekan batinku. Pohon aren mati merana sendirian, itulah
nasib di depanmu, Tam.”
Rustam adalah peniru yang hebat. Mungkin karena ia telah ditindas Paman
selama bertahun-tahun sehingga kadang kala ia tampak seperti orang idiot. Maka, ia
pandai benar menyaru menjadi Paman. Nada suara, gaya mencak-mencaknya, dan
pilihan kata-katanya, semuanya persis Paman. Midah menimpali.
“Dot! Apa perlu kau kumasukkan ke SD lagi agar becus bekerja?”
Tawa kami berderai-derai. Hasanah menyambung.
“Macam mana suamimu takkan kabur semua. Not! Baru kutahu ada perempuan
yang
baunya macam bau terasi sepertimu itu! Kubilang apa, kalau mandi, pakai sabun!”
Aku terpingkal-pingkal melihat tingkah ketiga kolegaku itu. Saking keras aku
tertawa sekaligus saking keras aku menahannya, ngilu rasanya punggungku. Aku
bukan hanya menertawakan kepiawaian mereka meniru Paman, namun aku telah
melihat, jika mereka dimarahi Paman jangankan membantah, melihat wajah Paman saja
mereka tak berani. Mereka ketakutan seperti kucing dikepung anjing. Ternyata
ketika Paman tak ada, mereka sangat binal.
Ah, indahnya tanpa paman. Kami bekerja seharian dengan tenang dan
senang. Sampai-sampai Midah berharap agar angin kencang di laut sehingga Paman
makin lama di Pulau Sekunyit.
Esoknya kami kembali bekerja dengan tenang dan senang. Kepada para
pelanggan, jika mereka tak melihat Paman dan bertanya, dengan hati gembira kami
sampaikan bahwa Paman kondangan ke Pulau Sekunyit, takkan kembali sampai paling
tidak dua hari lagi. Meski mereka tak bertanya, kami bercerita saja soal itu. Oh,
nikmatnya bisa mengatakan semua itu.
Pagi itu pun berlalu dengan tenteram. Tak ada lengkingan orang ngomelngomel sambil memegangi selangkangnya itu. Tak ada yang menghina-dina kami. Tak
ada lagu Badai Bulan Desember. Lagu kesayangan Paman yang saking kami bosan
mendengarnya, sering kami berdoa agar kasetnya kusut, bahkan agar tape recorder
itu meledak. Sekarang kami bebas mencari gelombang radio untuk mendengar lagu
sesuka hati, atau mendengar celoteh Bang Mahmud di Radio Suara Pengejawantahan.
Siangnya usai salat zuhur, masa-masa sepi warung kopi. Rustam termangumangu di kursi malas Paman. Midah hilir mudik di pekarangan warung kopi, lalu
duduk melamun di bawah pohon kersen. Tak jelas apa yang sedang merundungnya.
Hasanah mengetuk-ngetuk gelas dengan ujung sendok, sehingga menimbulkan suara
bising yang merisaukan dan karena itu ia dimarahi Midah. Dua perempuan itu
bertengkar karena Hasanah tak
mau menghentikan keisengannya.
Aku menyingkir ke dapur karena jiwaku tertekan mendengar mereka beradu
mulut. Kutatap dengan sedih Yamuna yang sekarang disimpan di atas lemari.
Kulap debu yang melekatinya dengan perasaan penuh kasih sayang, lalu aku kembali
ke ruang tengah warung dan duduk. Midah juga kembali ke warung lalu duduk di
pojok. Pandangannya jauh ke arah dermaga. Sunyi senyap. Rustam meletakkan kakinya
di lantai untuk menghentikan goyangan kursi. Ia menatap Hasanah. Hasanah
menatap Midah. Midah menatapku. Aku menatap blender. Blender menatap Rustam.
Kami saling menatap untuk mengucapkan satu hal yang sama, tapi tak mampu
terucapkan. Kami terlalu gengsi untuk mengakuinya. Kami terlalu benci untuk
berterus terang. Benci, benci. Tapi, akhirnya Midah tak tahan.
“Aku rindu pada Paman …,” katanya dengan sedih.
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 29 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 39 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar