Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 33 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 33 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Demi Yamuna

SALAH satu kesulitan menjadi orang Islam, maksudnya, menjadi orang Islam dengan

kadar imam yang tak dapat disebut membanggakan---sepertiku dan Detektif M. Nur---

adalah ketika tarawih. Setelah berbuka puasa, kami repot bertanya sana sini, surau

mana yang tarawihnya sesingkat mungkin. Dan selalu terdapat gejala umum, yaitu jika

imamnya tua, pasti tarawihnya lama: 21 rakaat. Habis tarawih rasanya macam baru

selesai senam kesegaran jasmani.

Jika imamnya ulama muda, selalu hanya 11 rakaat. Itulah jumlah rakaat favorit

kami. Itulah bukti, betapa Allah Maha Pemurah. Setelah tarawih, dengan sentosa kami

masih sempat melewatkan malam berkeliling-keliling kampung. Itulah bukti, betapa Allah

penuh pengertian. Oh, indahnya bulang Ramadhan.

Malam itu kami menemukan tarawih 11 rakaat di sebuah surau nun di

ujung kampung. Surau itu tak punya listrik. Tapi sial, sang ulama muda

berhalangan sehingga diganti seorang imam tua. Maka angka 11 berubah menjadi 21.

Jengkel benar aku. Apalagi, karena tak ada listrik, Badalnya---orang yang

mengalunkan doa di antara rakaat tarawih--- harus berteriak-teriak. Bising

telingaku. Namun, tak dinyana, usai tarawih, seluruh kekesalanku terobati.

Hatiku mendadak berbunga-bunga sebab tiba-tiba aku seperti mendapat ilham untuk

membalas perbuatan Paman pada Yamuna dengan sebuah pembalasan yang memang

telah kucari-cari, yang sistematis, penuh rencana yang menggetarkan, intelek,

melibatkan Midah, Hasanah, dan Rustam, serta yang paling penting---karena

kemauan

Yamuna---setimpal. Tarawih yang melelahkan itu telah memberiku

inspirasi.

Paman juga adalah seorang badal yang amat dihormati di Masjid Al-Hikmah,

masjid terbesar di kampung kami. Rencanaku begini: akan kuciptakan situasi agar

Paman berteriak sekeras dan selama mungkin sehingga selangkangnya mau meletus.

Operasi 1, agar Paman berteriak: aku akan bersekongkol dengan Mustahaq

Davidson yang mengurusi sound system masjid untuk menyabotase alatnya sendiri,

seakan-akan terjadi gangguan teknis.

Operasi 2, agar Paman berteriak selama mungkin: akan kuusahakan agar

imamnya tua sehingga tarawih menjadi 21 rakaat.

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Aku minta bantuan Midah, Hasanah, Rustam, juga Detektif M. Nur semuanya

gembira. Lalu, kuhubungi Mustahaq Davidson. Tentu saja ia tak setuju pada rencana

yang sakit saraf itu. Tapi, kuancam dia. Kubilang akan kuadukan pada istrinya

kelakuannya menggoda-goda biduanita organ tunggal tempo hari. Istrinya itu kalau

marah rambutnya pandai ber diri. Mustahaq pucat pasi dan mengangguk-angguk

dengan kecepatan mengagumkan. Ia menyerah tanpa syarat. Ia takluk bulat-bulat.

Operasi 2 agak rumit. Usai berbuka puasa, aku dan Detektif M. Nur ngebut

naik sepeda menuju rumah Topik Makarun, seorang ustaz muda yang baru lulus

dari sebuah pondok pesantren di Jawa. Ia selalu memimpin tarawih 11 rakaat.

Di pekarangan rumahnya, kami mengendap-endap mendekati sepedanya, lalu

kami sangkutkan sepeda itu di dahan pohon gayam yang tinggi, lalu kami cepat-cepat

kembali ke masjid.

Menjelang tarawih, ketua dewan kemakmuran masjid gelisah karena Ustaz

Topik Makarun tak tampak batang hidungnya. Operasi dimulai. Rustam menyarankan

pada ketua dewan agar Ustaz tua Taikong Razak menggantikan Ustaz Topik.

Paman meraih mik. Di ruang operator, Mustahaq ambil bagian.

“Tes, brpp, nguing, nguikk, brrp ….”

Paman mengetuk-ngetuk mik.

“Tes, tes, 1, 2, 1, 2, halo, halo, nguik, nguikk, nguiiiiing ….”

Paman mencoba berulang kali. Mik hidup, mati, nguing nguing lagi, lalu mati

lagi. Barangkali karena didorong oleh ketakutannya yang sangat pada istrinya,

Mustahaq membuat gangguan teknis itu menjadi dramatis. Nguing menjadi sangat

mengganggu. Jemaah resah. Paman terus mencoba. Ia sadar, tanpa mik, ia akan berada

dalam kesulitan besar sebab jika berteriak, selangkangnya sakit. Mik itu sangat penting

baginya. Tapi mik itu akhirnya mati.

Mustahaq keluar dari ruang operator dan menatapku dengan putus asa. Satu

tatapan yang berbunyi: lihatlah Ikal, aku telah melakukan semua kemauan sakit jiwamu. Maka

tolonglah, jangan kau berpanjang mulut pada istriku soal biduanita organ tunggal itu. Aku

membalas tatapannya, dengan bunyi: tak ada jaminan sama sekali, Haq!

Jemaah sudah tak sabar ingin tarawih. Mik telah almarhum. Tak ada pilihan

lain, dengan sungkan Paman meletakkan mik. Wajahnya pias. Horor untuknya dimulai.

Paman berdoa dengan menekan suaranya serendah mungkin. Seorang jemaah

di saf perempuan, dari balik tabir, berteriak,

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

“Aih, tak kedengaran di sini, Pak Cik, keraslah sedikit!” itu adalah suara Midah.

Paman mencoba meninggikan suaranya.

“Kurang pol, Pak Cik, masih tak kedengaran.” Itu suara Rustam.

Paman menaikkan lagi suaranya dan tampak menahan sakit. Tapi seseorang

masih mengeluh:

“Macam mana kita mau sembahyang ini, kalau bunyi Pak Cik macam kumbang

saja begitu.” Itu suara Hasanah. Diprovokasi begitu, jemaah lain ikut-ikutan. Paman

tersinggung karena disuruh-suruh. Lalu ia marah, Digenggamnya selangkangnya kuatkuat dan berteriak- teriaklah dia. Jemaah senang. Demikian rakaat demi rakaat, Paman

yang tak sudi dikomplain berteriak sejadi-jadinya. Keringat bertimbulan di dahinya,

wajahnya meringis-ringis. Hal itu berlangsung selama 21 rakaat.

Tanpa ambil tempo, pada kesempatan pertama esoknya, kutemui Yamuna dan

kukisahkan kejadian di masjid semalam.

“Telah kubalaskan sakit hatimu, Yamuna. Jangan lagi kaurisaukan orang itu. Hidup

harus berlanjut. Lupakan kesedihan.”

Ia terharu karena merasa telah mendapat keadilan. Kami kembali bahagia. Kulirik

kiri- kanan, tak ada siapa-siapa, kupeluk dia. Lalu aku pamit. Di ambang pintu aku

berbalik. Yamuna tersenyum, dan memberiku sebuah kiss bye.

Aku dan detektif M. Nur ke rumah Ustaz Topik dan menurunkan sepedanya

dari pohon gayam. Ustaz Topik jauh lebih muda dari kami, tapi wawasannya sangat

luas. Di pondok pesantren di Jawa Timur itu, ia telah diajar oleh ulama-ulama

hebat lulusan dari Universitas Al-Azhar. Kami menunduk takzim waktu menerima

nasihat darinya, bahwasannya menyangkutkan sepeda orang di atas pohon tanpa

memberi tahu pemiliknya adalah sebuah

perbuatan berdosa

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 33 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini