Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 38 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 38 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 38 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Pembunuh Berdarah Dingin

MEMANG tak pernah ada bukti bahwa pada masa junjungan Nabi Muhammad sudah

ada permainan catur karena catur konon ditemukan di India---atau Arab?---pada

abad ke-14. Nama aslinya chaturangga. Dari nama itu, Indialah yang paling mungkin

asal muasalnya. Pernah ada sekelompok orang yang mengklaim catur berasa dari Arab.

Namun, jika dari Arab, kurasa namanya akan jadi caturrahmat.

Dari mana pun asalnya, jika catur merupakan metafora pertempuran, Junjungan

telah memberi contoh yang terang soal kelakuan yang harus ditunjukkan prajurit di

medan tempur. Semacam code of conducts tentara. Seganas apa pun pertempuran itu,

perempuan, anak-anak, dan orang tua haruslah dikecualikan. Pampasan perang ala

kadarnya, dan sejahat apa pun musuh, respek tetap harus ditaruh atas mereka.

Menghinakan musuh seharusnya bukanlah tabiat para pejuang muslim.

Namun, tengoklah perbuatan Matarom. Ia semakin beringas saja, terutama

sejak kehadiran Master Nasional Abu Syafaat. Master itu tak lain kerabat Mitoha

dan pernah menjadi pelatih catur provinsi. Mitoha mendatangkannya demi

ambisinya menjadikan Matarom juara tiga kali berturut-turut, sehingga menjadi

juara sejati. Master nasional akan melatih Matarom secara khusus.

Di tangan master nasional, Matarom memang makin hebat. Ia merajalela pada

setiap pertandingan. Ia melaju tanpa halangan dengan melibas setiap lawannya dua

kosong tak berbalas. Ia tak pernah menemui lawan yang berarti. Karena tekniknya

makin tinggi, naluri juaranya makin tajam, strategi Rezim Matarom-nya makin

kejam, maka congkaknya makin bengkak.

Firman Murtado, yang merupakan sekondan Patriot Trikora, membalaskan sakit

hati kongsinya itu atas konspirasi---yang bagus di atas kertas, tapi carut-marut di

lapangan---tempo hari. Ia membantai salah satu pecatur klub Di Timoer Matahari.

Matarom, yang dongkol melihat kemajuan Maryamah sekaligus terpancing

emosi melihat pembantaian yang dilakukan Firman itu, minta izin pada panitia

untuk memakai

papan catur peraknya ketika menghadapi Firman. Panitia membicarakan papan catur

perak

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

yang mengembuskan napas maut. Ia tahu bahwa Matarom tak pernah sekali pun

dapat dikalahkan, oleh siapa pun, di atas papan catur perak berhantu itu. Namun,

Firman adalah lelaki rasional yang berkali-kali mendaftarkan diri untuk pendidikan

sekolah calon Tamtama, dan selalu gagal di ujian tertulis. Ia lelaki lembut tapi ada

tentara di dalam dadanya, semua itu membuatnya sama sekali tak sudi jika disebut

pengecut, apalagi harus menolak papan catur perak yang hanya desas-desus saja

bahwa banyak hantu dari zaman lawas gentayangan di atasnya. Maka mendongaklah

Firman.

“Mau pakai hantu, mau pakai dukun, silahkan!”

Katanya dengan gengsi yang meluap-luap.

“Mau pakai papan perak, mau papan perunggu, aku tak takut!”

Kurasa Firman Murtado sedikit bingung soal nilai logam mulia dan di tak

paham konsep intensitas. Dalam marah yang benar seharusnya kalimat kedua itu

nilainya lebih tinggi dari perak, bukan? Tak heran ia selalu gagal ujian tertulis. Ini tak

lain tanggung jawab menteri pendidikan.

Maka, bertandinglah mereka dengan papan catur perak. Para penonton

yang menggemari catur dan para penggila klinik datang berbondong-bondong dan

napas mereka tertahan karena dalam pengundian Matarom mendapat buah hitam.

Duduklah lelaki bercambang gagang pistol itu di belakang barisan hantu sebagai raja

iblis.

Tak perlu waktu lama, papan catur menjelma menjadi Laut China Selatan

yang bergelora. Raja berekor berdiri di haluan bahtera kaum lanun dengan mulut

masih berdarah habis memangsa anak kecil. Menteri, yang telah diisi sang empu sesat

dari Melidang, dengan nyawa tak diterima bumi karena bahkan neraka tak menyukai

kekejamannya, yakni nyawa Panglima Ho Pho: Kwan Peng, menghunus pedang di

buritan. Ia tak sabar ingin menetak leher musuh. Delapan pion hitam adalah bajak

laut yang menyerbu dengan belati berkilat. Salah satu dari mereka kemudian menusuk

jantung raja Firman Murtado.

Secara pertempuran, raja Firman telah mangkat dengan gagah berani di

tangan musuh, namun secara catur, raja itu telah dimakzulkan oleh sebutir pion,

sekali lagi, sebutir pion, dan hal itu sama sekali bukan hal lain selain sebuah penghinaan.

Kelakuan semacam itu memperlakukan musuh model begitu, yang tak disetujui oleh

junjungan Muhammad.

Pertandingan tak dapat dilanjutkan pada papan kedua sebab pelecehan yang

dilakukan Matarom dengan memperalat prajurit balok satu umpan peluru alias pion

itu menimbulkan huru-hara. Jika tak dilerai Sersan Kepala dan tak digertak Paman,

pasti berakhir dengan tinju bebas tanpa ronde antar sekondan klub Di Timoer Matahari

dan sekondan Firman Murtado.

Para penggemar catur berdecak kagum atas sepak terjang Matarom sebab mereka

tahu, Firman bukanlah pecatur kelas emprit. Tahun lalu ia berada di tempat ketiga, itu

pun setelah Overste Djemalam berkeringat dingin mengepungnya. Matarom malah

mampu menyepaknya dengan sebutir pion secara berdarah dingin. Bagi mereka, hal itu

tak lain akibat dari kemajuan teknik serangan Rezim Matarom yang makin matang saja

dikuasainya. Namun, bagi para penggemar, Matarom makin ganas karena ia

telah direstui ratu adil yang memerintah alam gaib di Laut China Selatan. Kata

mereka, mulai sekarang, presiden sekalipun takkan mampu mengalahkan Matarom

main catur.

Kemenangan Matarom atas Firman Murtado melejitkannya ke final, dan

bertenggerlah dia di sana, macam burung pemakan bangkai menunggu korban.

Biarlah Matarom menggila, kami tak peduli karena kami sedang gembira sebab

Selamot datang lagi. Ia kembali dengan semangat yang berlipat-lipat lebih besar dari

sebelumnya. Ia mengatakan, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah belajar

membaca. Sang manajer itu akan belajar membaca dari artisnya: Maryamah.

Sementara itu, tak seorang pun pernah menduga Maryamah dapat melaju

sejauh ini. Di telah melunturkan 8 pecatur, namun ,masyarakat memperkirakan

riwayatnya akan segera khatam. Dari 75 pecatur, hanya tertinggal 5. Empat dari

mereka, selain Maryamah, adalah pecatur kelas kakap. Maryamah diramalakan akan

menjadi juru kunci 5 besar itu, dan takkan mampu mendekati manta suaminya,

Matarom. Seperti telah terjadi dua tahun berturut-turut, proyeksi khalayak untuk final

nanti tetap Matarom vs Djemalam.

Pertandingan berikutnya, Maryamah menghadapi seorang guru biologi senior

yang telah main catur sejak ilmu itu masih bernama ilmu hayat.

Kasat mata, semua orang menduga, bahkan cecak-cecak di warung kopi

menduga, jika memang lebih unggul, Maryamah akan membuat guru biologi itu paling

tidak mendapat satu poin, dengan skor 2:1 misalnya. Hal itu sah-sah saja. Dengan skor

begitu, Maryamah dapat menghindari dulu pecatur kuat Overste Djemalam, dan

mekanisme pertandingan akan membuat para pecatur hebat lain saling bunuh sesama

mereka sendiri. Secara logika, memberi poin pada guru biologi itu akan membuat

Maryamah melaju lebih mudah ke partai berikutnya.

Namun, celaka. Maryamah membabat guru biologi itu dua kosong telak.

Kami terbelalak. Seluruh penonton terpaku tak dapat berkata-kata melihat

tindakan nekad Maryamah. Mengapa di begitu bodoh? Hal itu akan berakibat dia

berhadapan langsung dengan Overste Djemalam yang disegani pecatur mana pun.

Hanya Paman yang tertawa terkekeh-kekeh yang tampak setuju benar dengan

tindakan edan Maryamah, dan hal itu menimbulkan tanda tanya besar bagiku.

Adakah rahasia tersembunyi antara Maryamah, Overste Djemalam, dan Paman, yang

aku tak tahu? Ataukah Paman bersikap aneh seperti itu lantaran situasi

selangkangnya?

Aku dihantui ribuan pertanyaan yang merisaukan. Mengapa Maryamah mau

bunuh diri begitu rupa? Mengapa dia menentang kebijakan Klub Kemenangan Rakyat

Kebahagiaan kita semua? Para penonton tak dapat melihat ekspresi Maryamah atas

kemenangan itu karena wajahnya tertutup burkak. Tapi aku tahu ia tersenyum. Ia

memang terang-terang menantang

Overste Djemalam. Motifnya, misterius.

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 38 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 38 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini