Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 42 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 42 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 42 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Ia lebih Pintar dari Presiden

ADA satu cabang ilmu, aku lupa namanya, yang dapat menjelaskan sampai batas usia

berapa kita dapat mengingat sesuatu. Maksudku seperti ini, ketika kita masih kecil, kita

tak ingat apa yang telah terjadi. Kecuali kejadian itu sangat luar biasa, sehingga kita

ingat terus. Sampai mati takkan lupa.

Barangkali seharusnya akut aku ingat apa yang telah terjadi ketika aku masih

berumur empat tahun. Namun, sampai sekarang aku masih bisa menggambarkan

dengan terang warna baju dan celana orang itu, bentuk sisiran rambutnya, bau

badannya, dan minyak rambutnya. Oran gitu adalah Pamanku, pemilik warung kopi

tempatku bekerja kini, dan kejadian luar biasa yang ia lakukan adalah bercerita padaku

dan adikku, dalam bahasa Inggris.

Waktu Paman belum menikah, masih berbentuk bujang tanggung, dan tengah

jaya- jayanya, ia tinggal bersama keluarga kami. Bukan dari sekolah, karena aku

belum sekolah, atau dari televisi, yang memang belum masuk ke kampung kami ketika

umurku empat tahun, bukan pula dari radio atau film yang diputar di bioskop Kim

Nyam atau di Markas Pertemuan Buruh, tapi dari Pamanlah pertama kali kudengar

bahasa asing itu: Inggris.

Waktu itu Paman telah bekerja sebagai tenaga langkong---semacam capeg alias

calon pegawai. Ia magang pada jabatan juru muda telepon alias operator maskapai

timah. Tugasnya menyambungkan telepon melalui sebuah papan vessel. Operator vessel

bekerja dengan kabel yang centang prenang ke sana ke mari, melingkar-melingkar

di lantai, sampai disampir- sampirkan di bahu mereka. Mereka menusukkan ujung

kabel itu ke dalam beratus-ratus lubang kecil untuk menyambung hubungan telepon.

Teknologinya masih analog. Pekerjaan itu berurusan dengan kemerosok suara telepon

sepanjang waktu. Operator selalu berteriak untuk menyambungkan telepon. Jika

cuaca buruk, mereka bekerja seperti komandan menertibkan barisan.

Paman bekerja sebagai operator selama puluhan tahun sampai maskapai timah gulung

tikar baru-baru ini. Pekerjaan itu menjelaskan mengapa ia tak pernah bisa bicara

dengan pelan. Jika bicara biasa, ia seperti marah. Jika marah, ia seperti murka. Volume

suaranya telah ter-set secara otomatis pada skala di atas lima. Tak bisa dikecilkan lagi.

Hal ini sudah menjadi semacam default baginya. Semacam bawaan dari pabrik.

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Nah, kejadian luar biasa itu adalah jika Paman pulang dari Tanjong Pandan untuk

sebuah perjalanan dinas, ia selalu membawakanku dan adikku mainan. Suatu ketika ia

pulang membawa sebuah buku yang sampulnya sangat bagus. Ia mengatakan bahwa

buku itu buku cerita rakyat dari Barat yang diberikan oleh sahabatnya di

Pelabuhan Tanjong Pandan. Sahabatnya itu seorang anak buah kapal minyak sawit

yang baru pulang berlayar dari Amerika.

Cerita Paman tentang pelayaran sahabatnya naik kapal minyak sawit itu adalah

satu hal, namun ceritanya dari buku berbahasa Inggris itu adalah hal lain. Aku

ingat betul, bagaimana aku dan adik lelakiku---adikku itu masih bodoh benar

waktu itu---terpesona, ternganga-nganga sampai mau kencing menjadi lupa,

mendengar Paman dengan sangat fasih bercakap dalam bahasa Inggris: swang-sweng,

sien-sion, ngoas-ngoes, wezwen-wezwin, grrh- grrh, mendesis-desis.

belum masuk ke maksud cerita, cara Paman berkata-kata di dalam bahasa yang

asing itu adalah aksi tersendiri yang amat menakjubkan bagi kami. Kularang

Paman yang mau menerjemahkan kisahnya ke dalam bahasa yang kupahami---

bahasa melayu---karena aku belum puas melihatnya bercakap-cakap dengan cara yang

aneh itu. Sebaliknya Paman senang tak kepalang karena mendapatkan seorang

pengagum yaitu keponakannya yang berumur 4 tahun. Dua orang pengagum

sebenarnya, yaitu adikku yang berumur 3 tahun. Tapi, ia masih bodoh benar waktu itu,

jadi ia tidak perlu dihitung.

Paman berjalan hilir mudik mengelilingiku dan adikku yang terpana

melihatnya memegang buku dan membacanya dengan keras dalam bahasa was-wes yang

sehuruf pun tak kami pahami. Sesekali Paman melihat kami dan tersenyum riang.

Betapa aku kau kagum dengan kecerdasan pamanku. Melihat gaya Paman, aku ingin

cepat pandai membaca dan aku ingin berbahasa aneh seperti itu. Dalam hatiku waktu itu,

pamanku adalah orang paling pintar di dunia ini. Ia menguasai empat belas bahasa

asing dan ia lebih pintar dari presiden di Jakarta.

Selelah puas mendengar bunyi ajaib dari mulut Paman, barulah ia

kubolehkan menerjemahkan ceritanya. Kekagumanku padanya kian berlipat-lipat sebab

ia membaca dalam bahasa Inggris kalimat demi kalimat, lalu kalimat demi kalimat itu ia

terjemahkan ke dalam bahasa Melayu.

Aku senang bukan buatan mendengar kisah itu. Dan, Paman senang melihat

mataku berbinar-binar. Kisah itu sangat bagus, yaitu tentang seorang lelaki yang

dikejar-kejar oleh kawanan tikus.

“Lihat ini, Boi! Ada gambarnya!”

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Aku dan adikku melihat gambar kecil itu. Adikku masih bodoh jadi hanya

senang melihat gambarnya. Tapi, kami agak takut melihat gambar itu, yaitu seorang

lelaki berbaju aneh, berpola kotak-kotak, memakai topi yang lucu. Ia terbirit-birit

dikejar kawanan tikus. Kawanan tikus itu sangat panjang seperti sungai.

“Orang ini adalah pegawai pemerintah,” kata Paman pada kami sambil memandang

benci pada lelaki berbaju aneh itu.

“Dia menggelapkan uang di kantor desa sehingga dia mendapat hukum karma. Dia

dikejar tikus sampai akhir hayatnya.”

Aku takut sekali. Di situlah untuk pertama kalinya kau mendapat pelajaran

tentang hukum karma.

“Hukum karma pasti berlaku, Boi,” kata Paman dengan serius.

“Maka, aku jangan nakal dan jahat, ya. Nanti kau kena hukuman karma.” Aku

mengangguk-angguk dengan takzim. Kusimpan benar pelajaran itu.

Kisah kedua, juga tak kalah hebatnya. Dari gambarnya tampak seorang lelaki

gendut tengah memanjat sebatang pohon. Pohon itu macam pohon kacang rambat

tapi tinggi sekali. Di kiri-kanan orang gendut itu ada gumpalan-gumpalan awan.

Dengan penuh semangat dan bahasa Inggris yang sangat fasih swang-sweng, sien-sion,

ngoas-ngoes, wezwen-wezwin, grrh- grrh, Paman kembali menerjemahkan kalimatkalimat Inggris itu ke dalam bahasa Melayu. Amboi, kagum benar aku. Paman bisa

menerjemahkannya dengan sangat cepat seperti ia tak perlu berpikir untuk

melakukannya. Baginya itu hanya soal sepele.

Paman menunjuk gambar lelaki gendut yang tampak ketakutan di puncak

pohon kacang di atas langit itu.

“Dia juga pegawai pemerintah, Boi.”

Kasihan sekali aku melihat dua orang pegawai pemerintah telah menderita di

dalam buku itu.

“Dia juga kena hukum karma karena suka ke warung kopi selama jam dinas.

Dia tengah menyirami pohon kacangnya, tahu-tahu pohon kacang itu melilitnya dan

pohon itu langsung tumbuh tinggi sekali sampai ke langit, membawa pegawai

pemerintah itu ke alam baka.

Aku ternganga. Lalat pun kalau masuk ke dalam mulutku, aku pasti tak sadar.

Adikku, yang masih bodoh itu, hanya suka melihat gambarnya. Sayang sekali ia tidak

paham ceritanya,

sayang sekali!

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Kutanyakan pada Paman, bahasa apakah yang ia ucapkan itu? Orang manakah

yang berbicara seperti itu? Paman mengatakan bahwa itu bahasa orang Barat.

Kutanyakan lagi, mengapa mereka berbicara was-wes begitu?

“Karena mereka tidak makan nasi seperti kita, Boi. Itu sajalah dulu yang perlu

kau

tahu. Jangan kau bertanya terlalu banyak, nanti pening aku.”

Hari-hari berikutnya, bahkan sampai tahun-tahun setelah itu aku dan adikku

sering merengek-rengek agar Paman mengulangi kedua cerita yang hebat itu. Paman

bercerita lagi dengan penuh semangat dan ia tidak kami izinkan menerjemahkan dulu

kisahnya sebelum kami puas mendengarnya berbahasa asing.

Paman hilir mudik lagi, sambil memegang buku itu dan membacanya dengan

penuh gaya. Kadang kala ia berdiri tertegun, maksudnya menunggu pujian dan tepuk

tangan dariku dan adikku. Ayah dan ibuku tertawa melihat gaya paman. Sungguh

sebuah acara keluarga yang menarik hati.

Tak kulupa, aku dan adikku menangis keras sekali waktu Paman beristri dan

harus meninggalkan rumah kami. Karena kami takkan lagi mendengarnya bercerita

dalam bahasa yang aneh itu. Saat itu, kami benci pada bibi kami.

Ketika aku masuk SPM, di perpustakaan sekolah secara tak sengaja kutemukan buku

yang serupa dengan buku cerita Paman dulu. Di situ baru kutahu bahwa cerita

Paman tentang lelaki berbaju kotak-kotak itu, yang dikejar tikus itu,

sesungguhnya adalah kisah rakyat Jerman yang sangat terkenal dengan judul asli

Der Rattenfanger von Hameln. Lelaki itu membawa pergi kawanan tikus yang

mengganggu sebuah desa dengan tiupan seruling ajaibnya. Ia bukanlah pegawai

pemerintah yang kena karma karena menggelapkan uang di kantor desa. Adapun

lelaki gendut yang berada di puncak pohon kacang di langit itu adalah raksasa yang

dikelabui oleh Jack, dari kisah rakyat Inggris Jack and the Beanstalk, bukan pegawai

pemerintah yang kena karma dikirim ke alam baka karena suka ke warung kopi

selama jam dinas.

Aku pulang dan bertanya pada Ibu. Ibu mengatakan bahwa ketika Paman

beraksi swang-sweng, sien-sion, ngoas-ngoes, wezwen-wezwin, grrh-grrh

berbahasa Inggris itu sesungguhnya Paman tak memahami sehuruf pun bahasa

Inggris. Bahkan sampai tua sekarang Paman tak bisa berbahasa Inggris. Waktu itu ia

hanya mengucapkan saja apa yang terbaca olehnya, apa adanya.

Namun, apa pun yang telah terjadi, tak berkurang rasa sayang dan kagumku

pada Paman. Ia telah memberiku masa-masa yang sangat mengesankan. Ia bagaikan

ayahku sendiri, bagaikan guru ngaji, guru SD, dan tukang sunatku dulu. Orang-orang

itu berhak mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan tentang aku. Karena itu,

aku tak pernah ambil pusing omelan Paman padaku di warung kopi. Selain itu, bagiku,

Paman tetaplah orang yang paling pintar di dunia ini. Ia menguasai empat belas bahasa

asing dan dia lebih pintar dari presiden di Jakarta.

Waktu aku berkemas-kemas untuk berangkat ke Jakarta dengan kapal

Mualim Syahbana tempo hari, kutemukan buku cerita Paman itu. Kubuka lembar

demi lebar lalu terbayang wan baju dan celana Paman, bentuk sisiran rambutnya, bau

badannya, bau minyak rambutnya, dan gayanya hilir mudik membaca dalam bahasa

Barat yang aneh. Kuingat benar semuanya. Padahal umurku baru empat tahun waktu

itu. Membayangkan semua itu, mataku berkaca-kaca. Sementara itu, adikku sekarang

sudah tidak bodoh lagi, tapi ia tetap tak tahu tentang kedua kisah pegawai pemerintah

itu, sayang sekali!

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 42 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 42 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini