Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 10 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 10 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 10 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Setuju

ORANG pertama yang kami---aku dan Selamot temui---setelah pembicaraan

dengan Maryamah itu di kios ayam Giok Nio itu adalah Detektif M. Nur. Ketika

kami tiba di kantornya, ia sedang melamun sambil memandangi Jose Rizal.

Kami terkejut melihat Detektif berjalan agak terkangkang-kangkang seperti

sebuah alat telah dipasang diselangkangannya. Tampak pula garis lebam melingkar di

lehernya. Ketika ia bicara, suaranya lucu serupa dakocan. Matanya lebih besar dari

biasanya. Aku segera sadar bahwa semua itu pasti ulah Ortoceria! sulit aku

menahan diri untuk tidak tertawa membayangkan Detektif tergantung-gantung

tak berdaya seperti kualami dulu. Namun, aku berhasil menjaga mulutku. Selamot

yang tak tahu-menahu bertanya pada Detektif, yang

dijawabnya dengan menggumam-gumam tak jelas. Yang kudengar hanya

seperti ini,

nges.”

“Pokoknya, jangan pernah percaya pada alat yang baru dicobakan pada monyet!

Nges,

Kemudian, dengan tangkas kualihkan pembicaraan pada hal lain. Kutanyakan

pada Detektif mengapa tadi ia melamun waktu kami tiba. Wajahnya berubah

menjadi senang. Katanya, telah berhari-hari ia memikirkan sebuah pelajaran yang

cukup ambisius untuk Jose Rizal. Ia akan melatih merpati Delbar nan cerdik itu agar

dapat memberi layanan seumpama layanan pos, yaitu dapat mengirim surat dengan

kecepatan kilat khusus, kecepatan perangko biasa, atau surat penting yang memerlukan

pengamanan semacam surat catatan.

Ia juga bermaksud melatih Jose Rizal agar dapat mengenali lalu melakukan

tindakan jika penerima surat pindah alamat, sedang bepergian, telah meninggal, atau

karena alasan tertentu, menolak menerima surat. Alasan tertentu itu contohnya: tak

suka pada surat, trauma karena sering menerima surat tagihan atau surat kaleng, tak

bisa membaca, atau berpenyakit gila.

Setahuku, semua layanan seperti itu hanya bisa dilaksanakan oleh seorang

tukang pos berdasarkan aturan administrasi surat-menyurat. Namun, kuterima saja

semua kegilaan itu dengan membayangkan betapa mengerikannya akibat

pengangguran yang berkepanjangan

pada kejiwaan seseorang.

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Kami sampaikan pada Detektif soal rencana Maryamah. Tentu saja, jika

menyangkut sesuatu yang berbau rencana atau rahasia, telinga lelaki kontet itu berdiri.

“Jangan dulu panjang mulut,” kataku benar-benar. Biar lebih dramatis,

kutambahkan,

“Ini menyangkut martabat Maryamah di depan Matarom. Harga diri

Maryamah tergeletak di tanganmu!”

Detektif menatap telapak tangannya. Kusampaikan pula bahwa dia mesti

membantuku memperjuangkan agar Maryamah bisa ikut bertanding pada kejuaraan 17

Agustus. Jika bisa, ia harus mencari informasi tentang calon lawannya dan mematamatai permainannya, seperti yang ia lakukan dulu ketika aku menghadapi Zinar.

Kemudian Detektif melakukan evaluasi atas pertandingan caturku melawan Zinar

tempo hari.

“Aku curiga,” gayanya sangat mengesankan.

“Operasiku waktu itu mengalami kebocoran. Karena itu, aku kalah, Boi.”

Kebocoran apakah yang dimaksudnya? Aku tak tahu.

“Maka, mulai sekarang, diagram catur hanya boleh dikirim melalui Jose Rizal,

dan jika berjumpa di pasar atau di warung kopi, kita harus seperti orang yang tidak

saling kenal! Meski bersenggol bahu, tak boleh menyapa!”

Bagaimana mungkin semua itu? Kami telah lengket, bahkan sebelum kami

disunat. Kami telah menjadi sahabat, bahkan sebelum kami lahir. Dia itu tetangga

dekatku dan sedikit banyak masih kerabat. Tiang-tiang listrik pun tahu bahwa kami

sobat. Namun, biarlah, kuikuti saja pikiran sintingnya.

Detektif meraih map berwarna pink dan memasukkan catatan pertemuan

itu ke dalamnya lalu memberinya judul Maryamah vs Matarom.

“Ini kasus rumah tangga, Boi,” katanya serius. Dilemparkannya map itu ke kotak

dokumen masuk.

Usai menemui Detektif, aku berbicara dengan Ibu. Kukabarkan bahwa rencanaku ke

Jakarta harus diundur lagi. Ibu bertanya alasannya, dan sekali lagi alasanku sulit

diterima akal sehat.

“Aku ingin membantu Maryamah agar bisa bertanding catur 17 Agustus nanti.”

Kata terseret-seret dalam tenggorokanku. Kejujuran memang pahit, namun

aku tak mungkin membuat-buat alasan di depan Ibu. Hidupku sudah cukup sial

dan takkan kutambahi kesialan itu dengan membohonginya. Seperti biasa, Ibu

mengunyah sirih acuh tak

acuh. Tampaknya ia sangat benci. Ia memalingkan wajah ke jendela dan bertanya:

“Sejak kapan Maryamah bisa main catur?”

“Dia tidak bisa main catur.”

“Jadi?”

“Dia akan belajar main catur.”

“Siapa yang akan mengajarinya?”

“Kawanku orang Barat itu.”

“Yang mengajari kau dulu?”

“Iya.”

“Apakah kau menang waktu itu?”

“Aku kalah waktu itu.”

“Apakah kau pikir Maryamah akan menang?”

“Iya, Maryamah akan menang.”

“Mengapa Maryamah bisa menang?”

“Karena dia pintar.”

“Mengapa dia bisa menang, kau tidak?”

“Karena aku bodoh.”

Ibu berhenti sampai di situ, disemburkannya air merah melalui jendela,

meluncur seperti ditembakkan.

“Siapa yang akan dilawannya?”

“Matarom.”

“Matarom yang dulu suaminya?”

“Iya.”

“Bukankah dia juara catur?”

“Iya.”

“Mengapa dia mau melawan

Matarom?” “Karena hatinya kesal.”

Ibu berhenti lagi.

“Apakah Modin tahu soal ini?”

“Belum tahu, Ibunda.”

“Bagaimana kalau Maryamah tak boleh bertanding?”

“Harus boleh.”

“Sampai kapan kau akan mendukung Maryamah?”

“Sampai akhir.”

Ibu menoleh padaku dengan putaran leher yang kaku dan pandangan yang

kejam. Namun, aku terkejut karena ia tersenyum. Dari sekian banyak alasan

yang pernah kusampaikan pada Ibu, hampir sepanjang hidupku, baru kali ini Ibu

tampak setuju! Lalu Ibu

mengatakan,

 “Kalau nanti ada pemungutan suara seperti pemilu untuk mendukung Maryamah, beri

tahu aku.”

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 10 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 10 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini