Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 19 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 19 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 19 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Batinku Tertekan
AJUDAN pembawa bantal Ambeien tergopoh-gopoh ke rumahku. Dia bilang aku
ditunggu Sersan Kepala di pasar. Aku bertanya-tanya, ada huru-hara apa sehingga
ajudan tampak panik begitu. Ajudan yang memang berpembawaan panik, terlalu panik
untuk menjawab. Ajudan memboncengkanku naik motor Banpol (Bantuan Polisi).
Motor itu sudah busuk. Dinaiki seperti mau meletus. Bunyinya macam campuran
bunyi mesin bubut, bunyi orang batuk kering, dan tawa kuntilanak. Tertekan batinku
naik motor itu.
Sampai di pasar, aku terkejut melihat mobil-mobil bak yang biasa membawa
sayur, parkir di pinggir jalan. Padahal, biasanya mereka telah semburat sejak subuh
berjualan ikan dan sayur ke kampung-kampung.
Aku masuk ke dalam pasar. Kulihat banyak orang duduk di pelataran stanplat
emper - emper toko. Mereka adalah para perempuan pedagang kaki lima, para
pedagang kecil buah- buahan, penjaja kue baskom, penjual sirih dan gambir, pedagang
bumbu dapur, beras, sayur, dan ikan. Giok Nio tampak di antara mereka bersama
karyawannya, Selamot dan Chip. Selidik punya selidik, rupanya mereka mogok
berjualan karena menuntut agar Maryamah tidak dihalangi bertanding catur pada
peringatan hari kemerdekaan. Keadaan jadi makin kacau sebab pedagang lain
mengancam ikut mogok. Jika itu terjadi, pasar kami bisa lumpuh. Sersan Kepala tak
bisa berbuat apa-apa melihat pemogokan yang baru pertama kali terjadi di
kampung kami itu.
Akhirnya, seorang tokoh legendaris, Ketua Karmun sang kepala kampung, turun
tangan. Kepada para pedagang ia berjanji untuk mencari solusi. Maka,
dikumpulkannya para pembuat onar di kantor desa. Para tokoh masyarakat diundang.
Ada pula wakil rakyat. Paman datang paling awal dan dari caranya melangkah tampak
bahwa ia datang untuk marah.
Belum lama rapat dimulai, Mitoha langsung menembak.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
“Lihatlah perbuatan kalian! Tak pernah perempuan di kampung ini berani
macam- macam sebelumnya. Kalian telah menghasut mereka!” tangannya menunjuknunjukku, Giok Nio, Selamot, Detektif M. Nur, dan Preman Cebol.
“Di mana-mana tak ada perempuan bertanding catur melawan laki-laki!”
bentaknya berapi-api. Hadirin segera terbagi menjadi dua kelompok, yang setuju
dengan tuduhan Mitoha yang tidak. Yang tak setuju dimotori seorang tokoh
masyarakat yang terkenal vokal. Di antara yang setuju, Paman termasuk. Ia tampak
sudah tak sabar mau marah-marah. Mitoha menyambung:
“Mengapa perempuan mau ikut campur? Bisa-bisa rontok wibawa pertandingan
catur
17 Agustus nanti.”
Selamot tersinggung.
“Kami tidak pernah menghasut siapa pun. Itu kemauan mereka sendiri!
Mengapa perempuan tak boleh ikut bertanding? Mana ada undang-undangnya bisa
begitu. Jangankan hanya catur, di Jakarta sekarang ada perempuan yang mau jadi
presiden!”
“Presiden mau siapa, mau laki-laki, mau perempuan, mau banci, itu urusan
orang
Jakarta! Bukan urusan kita!”
Maka, meletuplah adu mulut antar Selamot dan Mitoha. Pendukung masingmasing ikut-ikutan bertengkar. Ketua Karmun susah payah melerai. Di tengah
hiruk pikuk yang memanas itu, seorang wakil rakyat bangkit. Sambil membetulkan
posisi cincin batu akiknya, ia berseru, “Ini perkara rumit. Kurasa harus kita
tanyakan pada menteri olahraga, apakah perempuan boleh ikut bertanding main catur
atau tidak. Jangan cemas, aku bisa berangkat ke Jakarta untuk menanyakannya. Kebetulan
istrinya adalah teman sekolah mantan istriku.”
Tokoh masyarakat yang vokal itu tak bisa menguasai diri.
“Maksudmu, biar kau bisa pelesiran ke Jakarta pakai uang rakyat?
Begitukah maksudmu? Mau istri menteri itu kawan sekolah istrimu, mau kawan
istrimu main kasti, itu urusan rumah tanggamu. Jangan kau bawa-bawa kemari!”
Wakil rakyat tersinggung.
“Paling tidak aku punya jalan keluar, daripada kau! Merepet saja sana-sini!”
Adu mulut meletus secara terbuka. Si vokal naik pitam.
private-ebook.blogspot.com
“Paling tidak, aku berani mengatakan keburukan orang di depan hidungnya
sendiri! Daripada kalian, sibuk mengurusi golongan kalian sendiri! Kalau dekat
pemilu, repot betul kalian berbaik hati. Tak ada pemilu, mana ingat kalian pada kami!”
“Yang suka lempar batu sembunyi tangan adalah kau!”
Sang wakil rakyat rupanya telah digaji pemerintah untuk bersikap sinis pada
rakyatnya. Si vokal langsung mendampratnya. Ketua harusnya bersikap netral, tapi di
juga rupanya benci pada wakil rakyat itu.
“Apa aku tak malu bertanya yang tidak-tidak pada menteri?”
Sebaliknya, Paman tampak jengkel pada tokoh vokal dan Ketua Karmun
sebab ia mendukung Mitoha. Ia bangkit siap-siap angkat bicara. Dipeganginya
selangkangnya seperti pemain PSSI mau menghadang tendangan bebas striker
Vietnam. Dadanya naik-turun. Aku ngeri melihatnya. Untunglah Ketua Karmun
memberi kesempatan pada Modin dulu.
Modin yang telah melihat sendiri pemogokan kemarin tampak tak segalak
macam biasanya. Paman duduk lagi.
“Alasanku menolak Maryamah adalah karena pertimbangan syariat. Tak perlu
aku berpanjang-panjang dalih. Tak perlu kusitir ayat-ayatnya. Di dalam Islam,
perempuan tak boleh berlama-lama bertatapan dengan lelaki yang bukan muhrimnya.
Dalam pertandingan catur, hal itu akan terjadi, dan hal itu nyata melanggar hukum
agama.
Paman tampak makin tak sabar. Ia bangkit lagi
“Aku setuju dengan pendapat Mitoha tadi. Kalau perempuan ikut bertanding,
bisa-bisa jatuh wibawa kejuaraan catur 17 Agustus. Aku juga sepaham dengan pendapat
Modin.”
Lalu, paman menoleh kepada carik yang ditugasi Ketua Karmun menjadi notulis
rapat.
“Kau dengarkah bicaraku tadi, Saudara Carik? Catat semuanya!”
Cari berlepotan mengetik komentar Paman.
“Wahai majelis yang budiman, saksikan itu!” tukas Paman sambil menunjuk carik.
“bahwa setia kata dari mulutku telah dicatat. Kalau timbul satu mudarat
dikemudian hari dari persoalan Maryamah ini, aku punya bukti, hitam di atas
putih, bahwa pikiranku sudah jernih sejak awa. Saudara Carik, harap kau
simpan catatan yang penting itu baik-baik. Nanti pasti ada gunanya.”
Pandangan Paman yang berbelok-belok disambut riuh para hadirin.
Sebagian mencibirnya karena bukannya mengurusi Maryamah, ia sibuk meyakinkan
dirinya dan siapa saja. Dasar paranoid. Akibat sikap Paman yang melantur,
Selamot dan Mitoha kembali bertengkar seperti pertengkaran para tukang minyak
tanah di pinggir jalan. Keadaan kian kisruh lantaran Giok Nio protes sana-sini pada
ketua Karmun soal banyaknya pertandingan hari kemerdekaan yang tak bisa diikuti
perempuan. Panjat pinang, misalnya. Wakil rakyat ambil bagian dalam silang
sengketa. Tokoh masyarakat yang vokal tadi berbicara dengan sikap
mau meninju wakil rakyat itu. Suasana menjadi sangat
gaduh.
Ketua Karmun pening dan mulai melihat jalan buntu yang hanya bisa
diselesaikan melalui pemungutan suara. Ia bertanya kepada Paman.
“Berarti kalau kita mengambil suara soal setuju atau tidak untuk
pendaftaran Maryamah ini, kau pasti akan memilih tidak setuju. Begitukah kurang lebih
maksudmu, Har?” Kamhar adalah nama Paman.
“Tidak juga, Ketua.”
Na! hanya dalam hitungan detik pamanku langsung berubah menjadi bukan
pamanku lagi. Seseorang yang lain telah mengambil alih jiwanya. Hadirin main ribut
dibuat sikap Paman yang membingungkan. Ketua Karmun pening sehingga menjadi
muntab.
“Jadi, bagaimana sebenarnya maksudmu, Har? Jangan kau bertele-tele!”
Pamanku malah lebih muntab. Ia berdiri lagi, Digenggamnya kuat-kuat
selangkangnya. Suaranya menggelar.
“Menurut hematku, kalau Modin ingin menghindari hukum agama dilanggar,
pasang saja pembatas pada meja pertandingan! Maryamah bisa pula memakai burkak!
Ia tak perlu saling pandang dengan siapa pun! Mertua A Nyan namanya Toha, lelaki
atau perempuan, sama saja! Tak tahukah kalian, zaman sudah berubah. Perempuan juga
punya hak seperti laki- laki! Mereka mau main catur, mau manjat pohon pinang, mau
manjat tiang listrik, itu urusan mereka! Itu hak mereka yang harus kita hormati!”
Semua orang bungkam. Carik bersusah payah mengikuti kalimat Paman.
Tangannya mengetik dengan cepat. Paman jengkel mendengar suara mesin tik
yang keras. Carik bertanya.
“Bagaimana pantun Pak Cik tadi?”
“Apa yang kau perbuat itu, Carik? Tak perlu kau ketik kalimatku. Buat apa? Tak
ada faedahnya!”
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 19 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 19 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar