Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 8 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 8 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 8 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Kopi Sebuah Kisah di Dalam Gelas
“MACAM mana kopi Pak Cik, ni?” sapaku selalu untuk orang yang dari arloji kodiannya
dan daki yang melingkar di lehernya langsung kutahu bahwa ia orang Melayu. Kalimat
yang baru kuucapkan itu harus dilampiri dengan satu senyum manis. Begitu pesan
Paman dengan keras jika menyambut orang yang baru pertama bertandang ke warung
kami. Namun, lelaki itu tak perlu bersusah-susah mengatakannya. Nada suara dan sinar
matanya telah memberi tahuku bahwa ia pasti memesan kopi pahit.
“Pahit, Boi, pahit.”
Selain aku, ada tiga pelayan lain di warung kopi Paman. Mereka adalah
Midah, Hasanah, dan Rustam.
Hasanah masih sangat mudah, baru 27 tahun. Maksudnya, masih sangat muda
diukur dari jumlah kawinnya yang telah 4 kali dan seluruh suaminya minggat.
Namun, dia adalah seorang periang yang tak banyak ambil pusing soal nasib sialnya.
Dalam hal cinta, satu kalimat selalu dianutnya: ingin kawin lagi!
Adapun Midah adalah perempuan yang telah diperlakukan dengan tidak adil
oleh hukum fisika. Daya tarik bumi telah menyebabkan pipinya yang tembam jatuh
sehingga bibir atasnya membentuk garis yang cembung, dan hal itu hanya akan
menyiarkan satu kesan tentang seseorang: judes. Padahal, Midah sejatinya sangat
ramah. Pamanlah yang menemukan hubungan antara hukum fisika dan nasib Midah
dalam dunia asmara, yang kemudian disarankan oleh Paman agar Midah sering
tersenyum sebab jika ia diam, orang takut mendekatinya. Hal itu menjawab
pertanyaan mengapa Midah sering tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas,
mirip orang sakit jiwa.
Kami sangat menghormati Midah karena ia paling lama bekerja untuk
Paman. Ia bertindak semacam deputy. Artinya, jika Paman tak ada, ialah nakhoda
warung. Aku tak tahu apakah daya tarik bumi itu yang kemudian menyebabkan Midah
tak menunjukkan gejala akan kawin meski umurnya sudah 38 tahun. Kurasa hal-hal
semacam ini harus ditanyakan pada
menteri
pendidikan.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Rustam, dari tampangnya memang tampak seakan dilahirkan ke dunia ini
untuk disuruh-suruh. Ia tertua di antara kami dan seperti aku adanya: bujang
lapuk. Namun, ia berada dalam situasi sangat lapuk mengingat umurnya sudah 43
tahun. Karena begitu banyak bujang lapuk di kampung kami, dari dulu aku
bermimpi untuk mendirikan organisasi persatuan bujang lapuk. Kalau itu
terlaksana, aku akan mengangkat Rustam sebagai ketua dewan penasihat.
Ketiga orang itu sudah belasan tahun bekerja di warung kopi Paman dan
sungguh misteri yang besar bagiku mengapa mereka betah.
Pamanku sangat cerewet dan temperamental. Upah, sama saja dengan
bekerja di warung kopi lain. Bahkan dengan pengalaman panjang itu, mereka bisa
merundingkan upah yang lebih tinggi dengan juragan lain. Apakah rahasia Paman
sehingga orang betah bekerja dengannya padahal ia sangat tidak menyenangkan? Pasti
ada sesuatu yang luar biasa di balik semua itu. Misteri ini ingin kubongkar pelanpelan selama bekerja di warung kopi ini.
Ω
Lambat laun, perasaan terpaksa yang kualami pada minggu-minggu pertama
bekerja di warung kopi berubah. Pekerjaan itu mulai memperlihatkan madunya.
Mulanya aku senang karena di warung kopi aku dapat berjumpa lagi dengan
banyak sahabat masa kecil yang telah terlupakan. Mereka membawa anak-anak dan
istrinya ke warung kopi. Mawarni, anaknya sudah mau masuk SMP! Sinan rupanya
sudah punya anak yang badannya lebih tinggi dari ibunya itu. Kasihan Amirrudin dan
Susila, mereka belum punya anak. Bagian yang paling indah adalah mereka mengajari
anak-anaknya agar memanggil ku paman. Hatiku senang tak terbilang.
Namun, daya tarik terbesar adalah bagaimana secangkir kopi telah membuatku
lebih mengenal kaumku sendiri: orang Melayu. Saban hari aku takjub melihat
pengaruh segelas kopi pada mereka. Pak Cik berarloji kodian tadi diam dan lesu
sebelum kopinya datang. Kuantarkan kopi untuknya. Ia tersenyum. Dengan mata
terpejam, diseruputnya kopi itu sampai terdengar ke seberang jalan. Lalu matanya
terbuka dan mengocehlah dia. Bicaranya pintar, lebih pintar dari siapa pun.
Semakin dalam aku berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib
temuan- temuanku. Kopi bagi orang Melayu rupanya tak sekadar air gula
berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan. Segelas kopi adalah dua belas teguk
kisah hidup. Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih pelan-pelan menguapkan
rahasia nasib. Paling tidak 250 gelas kopi kuhidangkan setiap hari untuk para pelanggan
tetap warung kami. Setelah sebulan, aku hafal takaran gula, kopi, dan susu untuk setiap
orang, dan aku tahu semua kisah.
Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin
pahit kopinya, makin berliku-liku petualangannya. Hidup mereka penuh intaian
mara bahaya.
Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Bisnis? Kena tipu. Namun, mereka tetap
mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang
dengan gilang- gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh,
dan bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini mereka disebut para player.
Mereka yang takaran gula, kopi, dan susunya proporsional umumnya adalah
pegawai kantoran yang bekerja rutin dan berirama hidup itu-itu saja. Mereka tak lain
pria „do-re-mi , dan mereka telah kawin dengan seseorang bernama bosan.
Kelompok antiperubahan ini melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyenyak di
dalam zona yang nyaman. Proporsi gula, kopi, dan susu itu mencerminkan kepribadian
mereka yang sungkan mengambil risiko. Tanpa mereka sadari, kenyamanan itu membuat
waktu, detik demi detik, menelikung mereka.
Pada suatu Jumat pagi, mereka berangkat kerja berpakaian olahraga. Usai
senam kesegaran jasmani, ada upacara kecil penyerahan surat keputusan pensiun.
Itulah SKJ-nya yang terakhir.
Itulah hari dinasnya yang
terakhir. Tamatlah riwayatnya.
Sering kutemui, orang seperti itu mengatakan hal begini di warung kopi.
“Aih, rasanya baru kemarin awak masuk kerja.” Kemarin itu adalah 30 tahun yang lalu.
“Tahu-tahu sudah pensiun awak, ni?”
Dia memesan kopi dengan takaran yang sama seperti pesanannya pada
kakekku---di
warung yang sama---30 tahun yang lalu. Wajahnya sembap karena tahu waktu
telah melewatinya begitu saja. Masa mewah bergelimang waktu dan kemudaan telah
menguap darinya, dan ia sadar tak pernah berbuat apa-apa. Tak pernah menjadi imam
di masjid. Tak pernah naik mimbar untuk menyampaikan paling tidak satu ayat, sesuai
perintah Ilahi. Tak pernah membebaskan satu jiwa pun anak yatim dari kesusahan.
Duduklah ia di pojok sana menghirup kopi dua sendok gula yang menyedihkan itu.
Kaum ini disebut para safety player.
Ada pula satu kaum yang disebut sebagai semi-player. Cirinya: 4 sendok
kopi, ini termasuk kental, tapi ditambah gula, setengah sendok saja. Orang-orang ini
merupakan ahli pada bidangnya. Mereka bertangan dingin dan penuh perhitungan.
Mereka bukan tipe pegang-lepaskan-pegang-lepaskan. Mereka adalah tipe pegangcengkeram-telan. Namun, adakalanya mereka adalah pencinta yang romantis.
Takaran kopi semacam itu membuat mereka merasakan pahit dekat tenggorokan,
namun tebersit sedikit manis di ujung lidah. Bagi mereka, hal itu sexy!
Mereka yang minum kopi dan hanya minta sedikit gula, lalu setelah diberi
gula, mengatakan terlalu manis atau kurang manis, merupakan orang-orang
yang gampang dihasut. Merekalah pengacau sistem politik republik karena suaranya
gampang dibeli. Mereka itu kaum yang plin-plan! Petinggi-petinggi partai politik dan
menteri-menteri kabinet banyak bercokol di wilayah ini.
Mereka yang memerlukan susu lebih banyak umumnya bermasalah dengan
kehidupan rumah tangga. Dalam keadaan yang ekstrem---misalnya tengah berperkara
talak-menalak di pengadilan, mereka hanya meminum air panas dan susu saja, tanpa
gula dan kopi. Orang- orang ini sering melamun di warung kopi. Tak tahu apa yang
sedang berkecamuk di dalam kepala mereka. Mereka adalah para ex-player.
Namun, ada pula yang suka minum air dengan gula saja. Tanpa susu dan kopi.
Mereka adalah burung sirindit. Sedangkan mereka yang meminta kopi saja, tanpa air,
dan memakan kopi itu seperti makan sagon, adalah penderita sakit gila nomor 29.
Adapun mereka yang
sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-nyia hidup ini.
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 8 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 8 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar