Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 6 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 6 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 6 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Lelaki Melayu, Kopi, dan Catur
JIKA Kawan berkunjung ke kampungku, bertandang dengan perahu atau datang
dengan bus, datang sebagai turis, pengelana, pendakwah, atau utusan pemerintah
untuk satu tugas nan mulia, maka Kawan akan hinggap pertama kali di ujung pasar.
Sebab di sanalah dermaga dan di sana pula terminal---kalaupun bisa disebut terminal
sebab sesenangnya perasaan merupakan satu-satunya pedoman bagi sopir untuk
menaikkan dan menurunkan penumpang. Lagi pula bus itu tak ada pintunya. Namun,
jangan silap mendengarku mengucapkan terminal, seakan- akan banyak bus di sana,
kenyataannya hanya satu dan tak ada pintu.
Masih ratusan meter dari pasar itu, dirimu sudah akan mendengar suara-suara,
kadang kala teriakan. Jamak, jika tadi kau sangka kegaduhan itu berasal dari
banyak manusia, rupanya tidak. Orang Melayu, orang bersarung, orang Tionghoa,
dan orang Sawang, tak pernah berhemat kata dan suara. Keduanya diberi Tuhan,
maka berkicaulah, berkoarlah sesuka hatimu, tak perlu membayar.
Sampai di ujung pasar tadi, kau akan terpana menyaksikan sejauh mata
memandang, warung kopi berderet tak putus-putus. Kemudian akan tampak olehmu
sebatang tiang traffic light.
Beberapa bulan yang lalu, kehadiran lampu lalu-lintas itu disambut dengan
gembira sebab itu pertanda kampung kami siap memasuki era modern. Namun, kini
para pendatang akan menduga telah terjadi kerusakan sebab tak ada gerakan cahaya
apa pun di tiang itu. Bukan, bukan rusak, tapi sengaja dimatikan karena warna apa
pun yang menyala, tak seorang pun mengacuhkannya. Dulu waktu lampu itu masih
menyala. Jika Kawan naik sepeda motor dan berhenti saat lampu merah, seseorang
akan berteriak dari warung kopi di dekat lampu itu.
“Lampu itu tak laku, Bang. Lanjutlah.”
Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil.
Maka, jangan hiraukan lampu jalan itu. Langkahkan kakimu ke warung kopi
dan temui di sana beratus-ratus pria korban PHK massal karena tambatan hidup satusatunya yaitu
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
private-ebook.blogspot.com
perusahaan timah, yang dikenal sejak zaman Belanda dengan sebutan maskapai timah,
telah khatam riwayatnya. Di warung-warung kopi itu pria-pria Melayu
mengisahkan nasibnya, membangga-banggakan jabatan terakhirnya sebelum
maskapai timah gulung tikar, dan mempertaruhkan martabatnya di atas papan
catur. Lelaki Melayu dengan kopi, sisa kebanggaan, dan catur, seperti lelaki Melayu
dengan pantunnya, seperti lelaki suku bersarung dengan sarungnya, seperti lelaki Khek
dengan sempoanya.
Kalau ada kriteria semacam densitas warung kopi, yakni jumlah warung kopi
dalam ukuran wilayah tertentu, kupastikan kampung kami masuk buku rekor dunia.
Pun jika ada lomba soal jarak yang sudi ditempuh orang demi segelas kopi,
pemenangnya pasti pula lelaki Melayu. Saban pagi, serombongan besar pria,
seperti gerombolan migrasi di Padang Masaimara, dari kampung-kampung yang
berjarak sampai 20 kilometer, berbondong- bondong ke pasar demi segelas kopi.
Lalu, mereka pulang ke kampungnya masing-masing untuk bekerja. Sore mereka
kembali lagi ke pasar, dan pulang lagi. Adakalanya malam nanti, pukul 9, setelah istri
dan anak-anak tidur, mereka ke pasar lagi. Semuanya demi segelas kopi.
Kopi adalah minuman yang ajaib, setidaknya bagi lidah orang Melayu, karena
rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Keluhan istri soal suami yang tak mau
minum kopi di rumah---padahal bubuk kopinya sama seperti di warung kopi---
adalah keluhan turun- temurun. Alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di
rumah tak seenak kopi di warung.
Peristiwa ini dialami Mustahaq Davidson---Kawan tentu masih ingat mengapa
namanya antik begitu. Jabatan terakhirnya di maskapai timah adalah kepala regu juru
pompa semprot; jabatan sekarang: juru sound system Masjid Al-Hikmah. Ia berkisah
bahwa istrinya diam-diam membeli kopi di warung kopi langganannya, dibungkusnya
dengan plastik dan dibawanya pulang, lalu dihidangkannya untuk Mustahaq. Setelah
meminumnya, sehirup saja, Mustahaq berkemas-kemas mau berangkat. Istrinya, yang
terkenal galak, bertanya mau ke mana. Mustahaq, yang terkenal jujur, menjawab
bahwa ia mau ke warung kopi, karena kopi di rumah tak seenak di warung kopi.
“Melayanglah panci ke kepala awak,” kata Mustahaq apa adanya, disambut ledak tawa
seisi warung
kop
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 6 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 6 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar