Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 29 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 29 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 29 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Blender 2
MERENUNGKAN hikayat warung kopi merupakan selingan yang amat
menyenangkan. Kulamunkan hal itu jika warung sedang sepi. Biasanya, antara
pukul satu siang sampai menjelang azan asar. Pada masa itu, semua gerakan di pasar
melambat. Jalanan kering dan berdebu.
Sesekali anjing pasar yang kurap melintas, bertengkar-tengkar sebentar dengan
anjing lain yang juga kurapan. Kemudian, saling mencium buntut masing-masing,
lalu bercinta. Geng buduk itu senang sekali bertengkar, lalu kawin, lalu bertengkar
lagi, lalu kawin lagi. Mereka adalah penganut paham seks bebas. Mereka
antikemapanan. Dua-tiga rombongan kecil burung dara melangkah berderak-derak di
atas atap seng. Kepak mereka adalah suara terkeras di pasar yang sedang malas-malas.
Orang-orang yang tak tahan disengat matahari, melipir ke bawah pohon
kersen. Di sana mereka disambut tukang es air nira dan penjual tebu yang ditusuk
dengan lidi. Penjual tebu hampir punah. Tinggal satu-dua dan jarang tampil. Adapun
penjual buah gayam rebus dengan parutan kelapa dicampur gula merah, penjual
jambul bol, jambu monyet, jambu kemang, penjual buah kembilik, buah rambai, ubi
jalar rebus, buah keremunting, dan buah berangan, yang dijual di dalam lipatan daun
simpor yang disebut telinsong, tak pernah tampak lagi batang hidungnya. Dagangan itu
telah punah. Anak-anak sekarang tak mau makan buah- buah hutan itu. Mereka lebih
suka makanan berwarna-warni di dalam plastik---semakin pink warnanya, semakin
menerbitkan selera, dapat mainan Kura-Kura Ninja, pula!
Paman mendengkur di kursi malas. Midah mencari kutu Hasanah,
Hasanah menguteksi kuku-kukunya dan Rustam melamun, tak tahu aku apa yang
berkecamuk di dalam kepala bujang lapuk yang baik hati dan sedang terkantuk-kantuk
itu.
Aku kian hanyut dalam pikiran ke masa lampau. Pernah Paman berkisah
bahwa dahulu kala hanya ada satu-dua warung kopi. Itu pun bukan khusus warung
kopi, melainkan
warung makan yang menjual kopi. Pelanggannya adalah buruh kapal keruk dinas
malam.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Lelaki Melayu memang peminum kopi sejak masa nenek moyang, tapi mereka minum
kopi buatan istri di rumah. Pernah pula ada satu masa ketika kopi dianggap seperti
rokok sehingga perempuan yang minum kopi dianggap tidak patut.
Warung kopi kemudian berkembang menjadi tempat para pendulang timah
saling mengadukan nasib sekaligus gedung parlemen tempat mereka melakukan tugas
legislatif tak remi untuk mempertengkarkan sepak terjang pemerintah. Namun,
sejak tahun sembilan puluhan, sejak maskapai timah gulung tikar, warung kopi kian
banyak bermunculan. Mungkin karena makin banyak yang dikeluhkan.
Lambat laun warung-warung itu membentuk sistem sosialnya sendiri. Maka,
kami punya warung kopi dengan menu kopi miskin, yaitu kopi bagi mereka yang
melarat sehingga tak punya uang cukup untuk membeli kopi biasa. Namun,
ganjarannya, ia mendapat kopi tanpa gula sebab harga gula mahal. Maka, kopi miskin
adalah kopi pahit, sepahit-pahitnya, seperti nasib pembelinya.
Pamanku yang berjiwa lapang dan merupakan umat Nabi Muhammad yang
amat pemurah, menyediakan kopi miskin dalam menu warungnya. Sesekali, secara
diam-diam pamanku menyuruh kami menambahkan gula untuk kopi miskin, karena ia
tak sampai hati pada kaum papa itu. Namun, aneh, pembeli melarat telah terbiasa
dengan kopi miskin malah tak menyukai hal itu. Pelajaran moral nomor 22:
kemiskinan susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin.
Tak jarang, orang-orang dari partai politik rapat di warung kami. Kadang kala
orang- orang ternama mampir. Warung kami telah menjadi tempat pertandingan
catur, tempat orang berunding soal bisnis, tempat kampanye, tempat menenangkan
diri jika sedang ribut dengan istri, tempat bertemu bagi yang tengah kasmaran, dan
tempat membuat janji-janji bagi cinta yang terlarang. Aku takjub menemukan diriku
menjadi bagian dari fenomena warung kopi. Saban hari, dari para peminum kopi, ada
saja pengalaman menarik yang membuatku berpikir sambil tersenyum. Pengalaman
makin menjadi sejak ada blender itu.
Sesuai dengan amanah yang telah diembankan Paman ke atas pundakku, serta
titahnya yang sangat keras agar aku mengoperasikan dan merawat blender itu
dengan sopan, aku benar - benar cermat dengan alat itu. Tak terbayangkan murka
Paman jika terjadi sesuatu padanya. Maka, kuikuti dengan teliti manualnya. Ia tak
kupakai jika tak terpaksa. Bubuk kopi yang kumasukkan ke dalamnya kugerus
dengan halus sebelumnya dengan kisaran sehingga ia tak perlu bekerja terlalu keras.
Selesai kupakai, kubuka komponen-komponennya, kubersihkan dengan teliti, kutiuptiup, bahkan kumasukkan lagi ke dalam kotaknya. Paman puas dengan performaku.
Lambat laun, terjalinlah hubungan emosional antara aku dan blender itu.
Aku terpesona akan kecerdasan di balik sistem elektronika dan mekanikanya. Ia adalah
instrumen representasi peradaban baru dan ia hadir di muka bumi untuk orangorang yang mampu mengapresiasi kemajuan teknologi. Ia mampu membuat urusan
mengubah bentuk menjadi sangat mudah. Bukankah luar biasa?
Aku terpikat pada bahunya yang kukuh, yang menanggung leher jenjangnya. Ia
tegak, tapi berlekak-lekuk. Ia padat tapi tak bersegi. Maka, ia seperti tubuh
perempuan. B elum menghitung suaranya.
Ketika kupencet tombol on, saat itulah kutiupkan nyawa ke dalam dirinya ia
hidup, lalu ia tersenyum, lalu ia berbunyi seperti intro barisan string orkestra.
Kumasukkan bubuk kopi yang halus ke dalamnya, ia mulai berputar. Suara barisan
string tadi meningkat menjadi berdesing bak pesawat terbang bermesin Rolls-Royce
yang mau tinggal landas.
Kian lama akselerasi putarannya kian sempurna. Desingan berubah menjadi
desahan, silih berganti. Aku gemetar dalam sensasi yang sulit kulukiskan dengan katakata. Bubuk kopi perlahan berubah menjadi tepung.
Akhirnya, saat kumatikan, bunyi blender itu kembali melalui beberapa tahap,
dari mendesah menjadi berdengung, lalu lambat laun mendesau, lembut sekali, bak
angin pagi musim selatan. Namun ta tak langsung mati. Ada suatu momen dari
desauan itu sampai jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Pada momen itu,
seluruh keindahan yang baru saja dipancarkannya menjadi diam, menggantung,
merengkuh. Itulah moment of silence, ketika cinta memeluk dirinya sendiri. Semua itu,
semua perasaan itu, membuatku kasmaran!
Kurasa, dari sekian banyak hal di dunia ini, hanya A Ling dan alat itu yang
dapat memahamiku. Adakalanya, saat sedang bekerja dengannya, aku merasa telah
berselingkuh. Jika warung kopi sedang sepi, aku menyelinap ke dapur dan bercakapcakap dengan blender itu. Kami ngobrol tentang lagu-lagu baru yang diputar di radio
AM Suara Pengejawantahan dan cekikikan menertawakan selera musik orang udik.
Aku berkisah tentang kawan-kawan masa kecilku. Soal A Ling tentu saja kututuptutupi. Blender itu bercerita tentang musim yang tak menentu dan keluhannya tentang
dapur tempat tinggalnya yang berantakan.
“Yang paling jorok adalah lelaki kurs tinggi yang suka main perintah-perintah
itu,”
cetusnya
.
“Itu pamanku, Yamuna.”
Oh, ya, aku telah memberi blender itu sebuah nama yang syahdu: Yamuna. Nama
yang kuambil dari kisah cinta terhebat sepanjang masa: Taj Mahal. Yamuna adalah
sungai yang mengalir di antara Taj Mahal dan Benteng Merah.
Hubunganku dengan Yamuna kian lama kian harmonis karena aku
menerapkan pelajaran dari Oprah yang mengatakan bahwa 95% kegagalan
hubungan adalah akibat komunikasi yang buruk. Maka kau selalu membicarakan
dengan Yamuna setiap kali aku ingin
menaikkan daya putarnya. Ia memiliki 6 skala kecepatan. Bagiku, skala-skala itu adalah
anak- anak tangga sensasi. Aku biasa memakai skala 2 yang lembut dan santun.
Yamuna pun tampaknya nyaman. Sesekali aku minta izin padanya untuk naik ke
skala 3. Yamuna mengerling tanda setuju, namun aku tak tega. Dia sering kehabisan
napas jika terlalu kencang.
Suhu kian panas. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dengkur Paman di atas kursi malas kian
keras. Rustam menyusul Paman. Ia tertidur dengan wajah tertelungkup di atas meja.
Aku menyusul Rustam.
Namun, belum lama aku terlena, sontak aku terbangun karena suara yang
keras dari dapur warung. Aku tahu, itu suara Yamuna. Na! Siapa yang telah lancang
menghidupkannya tanpa izinku? Alat itu berada dalam tanggung jawabku!
Gawat! Aku melompat dan menghambur ke dapur. Sampai di sana, kulihat Paman
tengah memasukkan biji-biji kopi yang kasar ke dalam blender itu.
“Man, apa-apaan ini! Kopi ini belum digerus, alat itu bisa rusak!” paman tak
menjawab tapi tersenyum lebar. Tangannya gesit menekan biji kopi kasar. Aku
berteriak-teriak menyuruhnya berhenti. Suaraku bersaing dengan suara blender.
Paman tak peduli.
“Tak apa-apa, Boi,” katanya riang. Ia malah memutar tombol kecepatan sampai
5. Padahal, selama memakainya aku hanya tega sampai angka 3. Itu pun setelah
minta izin dengan sungkan pada Yamuna. Maka, meraung-raunglah blender itu
seperti hewan kena siksa. Aku tak sampai hati melihatnya.
“Tenanglah, Boi. Tak ada masalah.”
Paman terus menekan biji-biji kopi yang kasar. Situasi menjadi berantakan
karena bubuk kopi yang penuh diputar oleh baling-baling blender yang kencang mulai
berhamburan. Paman malah semakin senang seperti anak kecil menemukan mainan yang
asyik dan celaka! Ia memutar lagi kecepatan blender sampai angka maksimum 6,
pol! Aku berteriak histeris mencegahnya. Ia tetap tak peduli. Ia malah terbahak-bahak
melihat alat itu meronta-ronta dan menghamburkan bubuk kopi. Lalu Paman
mematikan blender disertai satu senyum puas yang mengerikan. Alat yang malang itu
berdesing, berdengung, mendesau, lalu diam. Paman mengambil sedikit bubuk kopi,
memasukkannya ke dalam cangkir lalu menyeduhnya.
Paman berlalu, meninggalkanku yang gemetar karena tak dapat
menanggungkan perasaan miris dan tragedi yang menimpa Yamuna.
Kuhampiri ia. Ia megap-megap dan tampak sangat menderita. Yang dapat
kulakukan hanya menenangkannya. Kulihat kiri-kanan, tak ada siapa-siapa, kupeluk ia.
Ia menatapku seperti mengadu. Aku berpaling melihat Paman. Ia duduk santai di
atas kursi goyangnya
sambil tersenyum-senyum dan menghirup kopi. Aku benci
melihatnya.
“Sabarlah, Yamuna, kan kubalaskan sakit hatimu.”
Malam itu, aku tak bisa tidur karena Yamuna. Paman telah menggagahi kekasih
gelapku itu dengan brutal. Yamuna telah menjadi korban kekerasan dalam rumah
tangga. Aku sedih, lalu marah. Malam itu, aku mulai memikirkan rencana untuk
membuat perhitungan pada Paman, demi kehormatan Yamuna. Lihat saja nanti.
Esoknya, ketika kunyalakan, blender itu tak berdesing lembut seperti
biasanya, tapi terbatuk-batuk. Kelakuan Paman kemarin membuat benda itu berada di
ambang kerusakan. Mendengar suara gemeretak, Paman menghambur ke dapur, ia
murka tak keruan.
“Boi! Apa yang telah kauperbuat pada alat itu? Mengapa suaranya seperti mesin
parut
begitu?”
Aku berusaha membela diri, tapi tak sempat.
“Kau kemanakan telinga lambingmu itu? Sampai keriting mulutku bicara, jaga
alat itu
dengan cermat!”
Ia mencak-mencak.
„Lihatlah itu, baru sebentar dipakai sudah rusak! Pasti alat itu telah
kauperlakukan
dengan kejam!”
Aku menatapnya dengan putus asa.
“Sungguh kau tak punya perasaan, Boi! Sungguh kau tega! Orang yang
menggunakan alat dengan semena-mena sepertimu harusnya dimasukkan ke dalam sel!”
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 29 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 29 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar