Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 28 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 28 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 28 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Dilarang Mengeluarkan Anggauta

Badan

KEKALAHA
N Maryamah membuat situasi kubu kami menjadi kritis sebab pecatur yang

kalah dua kali akan gugur. Maka, ia tak boleh lagi kalah. Sempat kami tanya pada

Maryamah soal anjing pasar yang menyalak-nyalak itu dan mengapa ia meminta juri

mengusir anjing-anjing itu. Ia tak menjawab. Maka soal anjing itu: misterius. Detektif

mau menyelidikinya, tapi kami harus berkonsentrasi pada lawan Maryamah berikutnya.

Lawannya itu adalah Muntaha. Karena merasa bersalah, Detektif M. Nur dan

Preman Cebol menyelidiki Muntaha dengan saksama. Seperti layaknya intel, mereka

berlindung di balik pohon kersen, sembunyi di balik pot-pot bunga di warungwarung kopi, mengendap- ngendap di dalam got, demi mengintai Muntaha. Ke

mana pun Muntaha pergi, mereka buntuti. Mulai dari berangkat kerja sampai pulang

dari warung kopi. Bahkan Detektif M. Nur pernah menyaru sebagai tukang tagih iuran

televisi untuk menyelidiki situasi di dalam rumah Muntaha. Kedua cecunguk itu

melengkapi diri dengan walkie talkie dan teropong yang dipesan dari Jakarta. Sponsor

alat-alat itu adalah juragan ayam Giok Nio.

Muntaha mengatakan, dengan gelisah dan nada ingin berbagi rasa, pada

istrinya, bahwa beberapa hari ini, ia merasa dibuntuti seseorang. Ia mengharapkan

simpati.

“Itulah akibatnya kalau suka main perempuan! Yang membuntutimu adalah

dosa! Bukan siapa-siapa!”

Detektif M. Nur semakin disiplin dengan operasinya. Suatu ketika aku

melihatnya di pasar. Kupanggil ia. Ia pura-pura tak mendengar. Kupanggil sampai

berkali-kali, ia tak acuh. Kudekati.

“Apa telingamu sudah tuli, Detektif?”

Sambil berjinjit, dibekuknya batang leherku.

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

“Ingat! Kita tidak kenal. Bodoh sekali kau itu!” ia mengendap-endap lalu

kabur. Sungguh aku lupa bahwa kebijakan spionasenya adalah aku dan ia tidak kenal

dan diagram catur harus dikirimkan melalui Jose Rizal.

Maka, saban sore kutunggu Jose Rizal hinggap di jemuran membawa

berlembar- lembar kode permainan Muntaha. Diagram itu lalu kusampaikan pada

Nochka. Lambat laun kau mulai menikmati ketegangan dari operasi yang unik dan

penuh rahasia ini. Bayangkan, seorang grand master catur perempuan internasional,

nun di jantung Eropa, memberi pelajaran catur pada seorang perempuan pendulang

timah, di sebuah pulau terpencil antah- berantah, yang bahkan tak tampak di peta.

Misinya: membantu perempuan itu menegakkan martabatnya. Inilah solidaritas

perempuan. Untuk menambah suasana suspense, pelajaran catur itu ditransfer melalui

kode-kode catur nan rahasia yang takkan diketahui orang awan, misalnya 1.Bfd1,

Me8 2.a3, Kfe4-3.Gxe7, Mxe7, dan seluruh gerakan bawah tanah tersebut

dilakukan seekor burung merpati dan seorang detektif Melayu swasta---yang kontet.

Kode-kode itu, secara aneh membangunkan anak kecil yang rupanya

memang bersembunyi di dalam tubuh setiap orang dewasa. Kerap, kode-kode itu

kuanggap bak potongan kunci yang diperlukan Indiana Jones untuk membuka peti

harta karun. Kadang, ia seperti sandi rahasia tentara sekutu untuk mengebom

instalasi-instalasi vital Nazi. Kadang, ia bagaikan lambang yang akan membimbing

piring terbang dari planet lain untuk mendarat di bumi.

Grand Master memberi petuahnya, dan yakin Maryamah bisa mengatasi Muntaha.

Namun, nasib sial rupanya merundung kami. Pertandingan akan berlangsung

pukul 4 sore, pada pukul 11 siang, panitia mengabarkan bahwa Muntaha tak bisa

bertanding. Ia secara mendadak harus berangkat ke Pangkal Pinang untuk alasan

dinas. Berdasarkan perhitungan poin dari pool lain, Muntaha akan digantikan oleh

Maulidi Djelimat.

Celaka! Maulidi jauh lebih hebat ketimbang Muntaha maupun Syamsuri

Abidin. Dia pernah dikirim koordinator Keluarga Berencana untuk kursus catur

selam dua minggu di Palembang---yang waktu itu masih menjadi ibu kota provinsi

kami. Sekarang dua pulau, Bangka dan Belitong, telah melakukan desersi dari

Provinsi Sumatra Selatan. Mengapa koordinator Keluarga Berencana ikut campur

dalam hal ini? Aku tak tahu. Siapalah aku ini sehingga tahu segala hal. Kurasa hal-hal

seperti itu harus ditanyakan pada penerbit buku.

Detektif M. Nur memang punya diagram permainan Maulidi tapi diagram itu

belum dipelajari Nochka. Dari pengalaman melawan Syamsuri Abidin, tanpa

analisis Nochka, Maryamah pasti kesulitan.

Kami panik. Satu-satunya cara mengatasi masalah itu adalah segera

menghubungi

Grand Master. Namun, angkutan umum ke Tanjong Pandan telah berangkat dini hari.

Dan secara sangat aneh, kenalan-kenalan kami yang punya sepeda motor dan

mungkin dipinjam,

siang itu, secara aneh, raib. Mereka pergi dengan sepeda motor mereka, tak tahu ke

mana. Naik perahu pasti akan lebih dari 6 jam pulang-pergi.

Kami mati akal. Betapa menyakitkan. Maryamah yang telah tampil meyakinkan

akan gugur begitu saja. Sungguh tidak adil. Kami frustrasi. Detektif M. Nur

membanting radionya karena kesal. Padahal, ia dan Preman Cebol telah bersusah

payah mendapatkan diagram Muntaha.

Di tengah kekesalan kami, tiba-tiba terdengar sayup-sayup bunyi sirene. Kami

saling pandang: Chip!

Aku tergopoh-gopoh ke rumah Chip. Sampai di sana kau langsung ke pokok masalah.

“Dapatkah Abang memboncengkanku naik sepeda ke Tanjong Pandan, lalu

kembali

lagi sebelum pukul 5 sore?”

Jarak ke Tanjong Pandan hampir 100 kilometer. Aku sadar takkan bisa

mengejar pukul 4 sore saat pertandingan dimulai. Detektif M. Nur akan meminta

Maryamah mengulur waktu sepanjang mungkin sampai batas yang di bolehkan juri.

Dengan begitu, mungkin aku masih sempat membawa instruksi baru dari Nochka.

Kapten Chip merapikan jambulnya dengan tangan.

“Tolong, jangan panggil aku Abang,” jawabnya kalem sambil melirik arlojinya.

“Panggil aku Chip. Kapten Chip juga boleh.”

Aku mengangguk.

saja.”

“Hmm … terakhir ke sana, menonton orkes tempo hari … hmm … satu setengah jam

Satu setengah jam ke Tanjong Pandan, naik sepeda, benarkah?

Dia memintaku mengikutinya ke sebuah kamar. Gambar berbagai bentuk

pesawat terbang memenuhi dinding. Di sudut kamar, aku terbelalak melihat sebuah

sepeda besar bermerek Ambassador made in England. Sepeda itu telah dimodifikasi

sehingga seluruhnya, mulai dari tutup pentil sampai ke sadel, dinamo, dan

keliningannya, berwarna metalik. Menyilaukan.

“Sangat jarang kupakai. Hanya untuk keperluan mendesak.”

Ia memberi sedikit deskripsi tentang sepeda yang mendebarkan itu.

“Piring belakang kukir sendiri menjadi tujuh gigi.”

“Mengapa tujuh gigi?”

“Tuhan suka angka yang ganjil, Boi!”

Diturunkannya sepeda itu ke pekarangan. Ia memakai topi pilot dan membawa

dua buah helm.

“Siap berangkat, Boi?”

“Siap.”

“Baiklah, sesuai dengan peraturan maskapai penerbangan, sebelum berangkat

aku

wajib menjelaskan soal keselamatan penumpang.”

Aku tersenyum. Chip tak suka. Aku disuruhnya berdiri tegak seperti tentara.

“Tengok ini!”

Ia menunjuk ke bawah sadel. Dibatang sepeda melingkar lempeng

aluminium bertulisan: Fasten seat belt while seated. Life vest under your seat. Ia

membuka tas kecil dan mengeluarkan safety card serta kantong muntah. Aku terkejut,

Setahuku benda-benda itu tak boleh dibawa keluar dari pesawat. Seseorang pasti

telah menggelapkannya dari pesawat Sriwijaya untuk menyuburkan kesintingan bujang

lapuk ini.

“Ini dalam bahasa Inggris, Boi,” katanya sambil menunjukkan safety card itu.

“Kalau tak paham, tanya padaku. Tapi jangan cemas, semua ada gambarnya.”

Aku tergelak. Melihatku tak serius dia marah.

“Perhatikan, Boi! Ini menyangkut keselamatan!” hardiknya.

“Dan ini yang paling penting!” aku menegakkan badan. Ia menunjuk lempeng

aluminium tadi.

“Coba baca keras!”

“Fasten sela belt while seated! Life vest under your seat!

” “Pahamkah kau artinya?”

Aku paham, tapi menggeleng.

“Tentu saja kau tak paham! Tahu apa kau itu! Baiklah kuberi tahu padamu artinya!”

Aku mengangkat wajah, kupandang dia dengan wajah penuh harap akan

harapan. “Artinya adalah, dilarang mengeluarkan anggauta badan!”

Kali ini aku benar-benar tak dapat menahan diri. Aku terkikik sampai kaku

perutku.

Chip menarik seutas tali dari bawah boncengan sepeda dan melilitkannya di

tubuhku. Itulah seat belt-ku. Kami mengenakan helm. Diserahkannya topi pilotnya

padaku sambil menatapku dengan kesan jika sampai terjadi sesuatu pada topi itu, ia

takkan ragu mencekik leherku.

Chip menghidupkan sirene dan mulai mengayuh. Para tetangga celangakcelinguk melalui jendela. Rupanya sudah menjadi kebiasaan, jika Chip membunyikan

sirene, mereka menyemangatinya. Roda sepeda berputar lambat karena piring

belakang hanya bergigi tujuh. Rancangan piring begitu memang diniatkan untuk

memakai sepeda secara kesetanan. Chip mengitari rumah. Ia menggerung

mengerahkan seluruh tenaga. Setelah putaran ketiga, diiringi sorak-sorai tetangga

dan raungan sirene, Chip melesat ke jalan raya dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Sejurus kemudian, semua kekonyolan yang tak tertanggungkan tadi segera

berubah menjadi horor. Chip menundukkan tubuh. Ia berkonsentrasi penuh pada

jalan di depannya dan ngebut sekuat-kuat tulangnya. Udara bersuit-siut diterabas

sepeda yang melesat sangat deras. Rasanya aku tak percaya sedang naik sepeda.

Kutaksir kecepatan kami mencapai 70 kilometer per jam. Beberapa kali kami melewati

sepeda motor. semua hal yang sering dibesar- besarkan orang tentang Chip dan

sepedanya benar-benar bukan berita kosong!

Situasi berubah menjadi tidak lucu lagi, tapi berbahaya. Chip dan piring gigi

ganjil kesayangan Tuhan itu menunjukkan watak aslinya. Ketujuh giginya patuh pada

hukum fisika, yakini setelah mencapai akselerasi yang sempurna, ia malah semakin

mudah dikayuh. Hanya tenaga pancal, daya ikat mur sepeda, dan kecelakaan

tertungging di parit, yang dapat menghalanginya melaju seperti kuda terbang. Aku

berteriak histeris menyuruh Kapten Chip mengurangi kecepatan, dia tak peduli.

Lantaran dia telah terlempar ke dalam dunianya sendiri, di mana ia adalah pilot dan

sepedanya adalah pesawat Fokker 28.

Aku gemetar di tempat duduk belakang. Saking kencangnya, jika mulutku

terbuka, rasanya gigiku bergoyang. Sepeda meluncur meninggalkan debu. Dilihat dari

jauh, kami tak ubahnya film kartun. Kupejamkan mata menahan perasaan ngeri

dengan mulut komat-kamit memuja-muji Nabi Muhammad. Jika jalan jelek, Kapten Chip

berteriak.

“Kencangkan sabuk pengaman, Boi, cuaca buruk!”

Setiap memasuki kampung, di menyalakan sirene. Anak-anak berhamburan ke

pinggir jalan untuk melihat aksinya. Kapten chip melambai-lambai pada mereka.

Tanpa kusadari, kami telah memasuki Tanjong Pandan. Orang-orang kota

yang melihat kami ternganga mulutnya lalu terpingkal-pingkal. Memang sungguh lucu

melihat dua orang bersepeda menyilaukan, berhelm balap, penumpangnya diikat

dengan tali sambil memegang topi pilot. Akhirnya, kami sampai di Warnet. Kulihat

arloji. Astaga! Chip mampu

mencapai Tanjong Pandan kurang dari satu setengah jam!

Kutelepon Grand Master. Kami langsung online. Kujelaskan situasi darurat yang

kami hadapi lalu kukirimkan beruntai-untai kode permainan Maulidi Djelimat.

Sejenak di mempelajarinya. Kemudian.

“Waktu itu telah kukenalkan Guioco Piano dan variasi Tartakower pada

Maryamah. Jika ia paham, mungkin ia menang.”

Yang kuingat dari Guioco Piano adalah Maryamah dan Alvin tak

mampu mempelajarinya.

“Jika terlambat dan Maryamah terdesak, sarankan untuk menarik mundur

perwira- perwiranya dan kembali ke sistem pertahanan benteng bersusun yang telah

ia kuasai. Buat mekanisme pembelaan segitiga luncus c6, kuda g6, menteri d5.

Aku kembali ke tempat parkir. Kapten Chip berdiri tegak di samping Fokker 28

itu seperti seorang sopir yang setia. Kami pulang dan Chip kembali kesetanan.

Pukul 5 kurang 10, gerbang kampung tampak. Menjelang warung kopi, kulihat

Alvin menunggu dengan gelisah. Ia menyongsong kami, wajahnya seperti mau

menangis.

“Mengapa lama sekali? Mak Cik sudah kalah papan pertama!”

Dirampasnya diagram saran dari Nochka dari tanganku. Dia

tersentak. “Guioco Piano? Mana mungkin? Mak Cik belum paham

teknik ini!”

Namun, ia tersenyum melihat instruksi lain dari Nochka. Di berbalik dan

berlari

kencang menuju warung

kopi.

Di tempat pertandingan kulihat Maryamah pasrah. Sekondan-sekondannya kuyu.

Mitoha bahagia tak terkira melihat Maulidi segera menuntaskan papan kedua dan

menyingkirkan perempuan itu dari kejuaraan. Pamanku cekikikan di belakang Maulidi. Air

mukanya berkata: berani- beraninya kau lawan laki-laki, rasakan itu, Mah! Ia sedang menjadi

malaikat bertanduk.

Alvin berusaha menarik perhatian Maryamah. Maryamah menoleh padanya.

Diam- diam Alvin menunjukkan kode-kode dengan jarinya. Maryamah

memundurkan perwira- perwiranya. Maulidi heran melihat move itu. Tak lama

kemudian, setiap serangannya dimentahkan oleh blok benteng bersusun

Maryamah. Mitoha terperangah. Sekondan Maryamah bergairah. Lewat satu

serangan balik, raja Maulidi Djelimat tercekik.

Aku kagum, karena dengan cepat Maryamah bisa mengadaptasi tekniknya

sesuai petuah Grand Master. Bahkan, dalam sistem permainan yang tengah berlangsung.

Jika dia tak

berbakat, tak mungkin bisa melakukan

itu.

Pada papan ketiga Maulidi terus-terusan terdesak. Maryamah sepenuhnya

mengikuti instruksi Nochka. Kulihat Paman pelan-pelan menggeser posisi duduknya.

Tahu-tahu ia sudah berada di belakang Maryamah. Maryamah berhasil merebut papan

ketiga. Alvin melonjak- lonjak. Paman tertawa lebar. Air mukanya berkata:

berani-beraninya kau anggap enteng perempuan, rasakan itu, Mat!

Kuberi tahukan pada Chip bahwa Maryamah menang berkat bantuannya.

Ia tersenyum, menghidupkan sirene sepedanya, lalu melaju kencang menanggalkan

pasar.

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 28 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 28 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini