Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 26 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 26 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 26 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Blender 1

LAPANG nian hati Paman pagi ini. Senyumnya tersimpul-simpul. Ia membawakan

lagu Melayu Badai Bulan Desember secara instrumentalia---dengan mulutnya yang agak

monyong--- bersiul meliuk-liuk. Kuduga, pagi ini akan berlalu dengan damai. Ia duduk

di kursi malasnya. Kursi itu, khusus untuknya dan telah menjadi singgasana

tempat ia mengendalikan pemerintahan warung kopi. Di kursi itu Paman adalah sebuah

otoritas dan dia punya ideologi yang jelas tentang cara mengelola sebuah warung kopi.

Berani-berani duduk di situ sebuah tindakan mencari penyakit.

Paman bukanlah seorang juragan warung kopi yang stereotipikal, yang hanya

peduli pada cara menjual kopi sebanyak-banyaknya. Ia adalah pengkritik yang pedas,

orang yang jujur, pembela yang berani, orang Islam yang taat, dan sahabat yang

selalu dirindukan. Seisi pulau, siapa yang tak kenal Paman. Karena itu, warung

kopinya paling top, nomor satu tiada banding. Aku tahu mengapa Paman senang,

tentu karena kemenangan PSSI yang ia lihat semalam di layar kaca, ditambah berita

gembira, yaitu putra bungsunya segera disunat.

Mengenai istri dan anak-anaknya, Paman lagi-lagi membuatku tercengang.

Paman adalah seorang yang tak pernah sungkan mengungkapkan perasaannya.

Kerap kali secara sangat terus terang, tanpa tedeng aling-aling, dan tak takut pada

siapa pun. Pada masa yang lalu, konon ia pernah memarahi bupati di depan khalayak

ramai. Namun, pada istri dan anak- anaknya, ia sangat lembut. Jangankan

membentak, jika bicara dengan mereka, ia selalu mengatur nada suaranya agar

tidak tinggi. Kukira, dari seluruh kelakuan Paman yang eksentrik, sikapnya pada

anak-istri merupakan salah satu bagian paling menarik. Pernah kutanyakan

padanya, mengapa begitu.

“Karena dulu sebelum menikahi bibimu, pernah kujanjikan dengan

bersungguh- sungguh, bahwa aku akan menyayangi keluarga dengan sepenuh jiwa.” Ah,

tampak benar Melayunya lelaki itu. Tapi ia memenuhi janjinya, dan bagiku kalimat

Paman itu sedikit

menjelaskan, mengapa Bibi yang sangat anggun dan bersahaja bisa jatuh ke pelukan

Paman.

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Sayangnya, belum tengah hari, kedamaian itu meletus. Tak tahu siapa yang

membuat gara-gara, mungkin karena udara yang panas telah memuaikan

selangkangnya, Paman uring- uringan.

“Tahukah kalian?” katanya pada kami, jongos-jongosnya.

“Dewasa ini kopi sudah banyak diselewengkan!”

Merepetlah mulutnya soal kopi zaman modern yang ada di kota.

“Kopi mereka buat dengan mesin, dicampuri zat-zat aneh, berbusa-busa.

Mereka beri nama seperti nama bintang pelem, lalu mereka jual lebih mahal dari sekilo

beras! Itu kurang ajar! Itu melanggar hak asasi peminum kopi!”

Kami tegak menyimak, berani meleng sedikit, urusan bisa runyam.

“Mereka bilang, kopinya mereka datangkan dari luar negeri. Bahkan ada yang

menjual kopi dari kotoran musang. Itu melanggar hak hewan! Kopi yang benar adalah

seperti kopi kita. Kopi yang dibeli dengan harga yang adil dari para petani. Dijerang

dalam wajan, dikisar dengan tangan.”

Kopi kami memang seluruhnya dikerjakan oleh tangan manusia.

“Kopi adalah minuman rakyat. Dijual dengan harga rakyat. Kopi rakyat enak

karena

keringat petani dan tangan tukang kisar yang melepuh. Selain daripada itu, penipuan!”

Kurasa sedikit banyak, Paman ada benarnya.

“Kopi zaman modern, tak ada yang beres! Semuanya trabel!”

Yang dimaksud Paman dengan trabel adalah trouble.

Sore itu Paman datang sambil menjunjung sebuah kotak. Dikumpulkannya

kami, dibukanya kotak itu, isinya sebuah blender, dan berpidatolah ia.

“Kita tidak bisa terus-menerus seperti dulu. Cara-cara yang lama

dalam menghidangkan kopi harus ditinggalkan. Kita telah memasuki

zaman modern. Waktu, ingat waktu, adalah faktor terpenting dalam proses

produksi dewasa ini. Siapa yang tak bisa menghemat waktu, ia akan tergilas.”

Bicara Paman cerdas, tenang, tanpa dosa, dan sama sekali lupa akan

sumpah serapahnya pada kopi zaman modern pagi tadi.

“Saingan kita semakin banyak. Selera juga berubah. Peminum kopi sekarang

menyukai kotoran hewan. Dapatkah kalian bayangkan itu? Kopi dari kotoran musang

lebih mahal dari

kopi mana pun! Karena itu, Tam ….” Paman menunjuk Rustam.

“Coba kau telusuri jejak musang. Lacak di mana hewan-hewan itu buang hajat.

Kalau perlu kau tangkap dan jangan kau beri makanan lain selain biji kopi, dan

jangan kau beri minum, selain minyak jelantah, supaya buang hajatnya lancar. Kita

bisa kaya raya gara-gara tinja, Tam!” Rustam mengangguk-angguk dengan khidmat.

“Kau, Ikal!” Paman menatapku dengan tajam. Aku gemetar.

“Ini yang paling penting. Kau kuberi amanah mengoperasikan alat ini.” Paman

mengusap-usap blender itu.

“Pasang telinga lambingmu itu baik-baik. Alat ini adalah teknologi dapur yang

canggih. Baru datang dari Jakarta dan telah lama kupesan dari A Tun. Harganya

sangat mahal. Hanya rumah-rumah menteri dan warung kopi terkenal di Jakarta

yang bisa punya alat ini. Perlakukan ia dengan penuh sopan santun!”

Paman memang sedang tidak main-main.

“Hanya dalam keadaan darurat aku boleh memakainya. Misalnya kalau kita

kehabisan kopi dan harus mengambil keputusan secara cepat. Maka, kau giling kopi

dengan alat ini. Namun, jangan sembarangan. Sebelum dimasukkan, biji kopi harus

digerus dulu sampai halus. Karena alat ini tidak bisa bekerja terlalu berat. Ia

bukanlah alat kampungan untuk kuli. Ia alat modern yang cerdas dan lembut untuk

umat manusia yang bisa memaki akal dan hati nurani!”

Kusimak Paman dengan tegang.

“Adakah pertanyaan darimu?!”

“Sementara ini, belum ada, Pamanda.”

“Baca buku petunjuknya dengan saksama. Mendengarkah kau itu?”

“Mendengar, Pamanda.”

Ia menatapku penuh ancaman.

“Kalau sampai alat ini rusak, awas!”

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 26 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 26 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini