Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 25 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 25 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 25 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Pertarungan Pertama

HANYA empat kali orang Melayu menyandang baju terbaik. Habis disunat---itu pun

kalau dibelikan bapaknya, Lebaran---itu pun kalau maskapai timah membagi jatah

kain, saat

menikah---pernikahan yang pertama, dan saat menonton pertandingan catur.

Pertandingan masih dua jam lagi, namun penonton telah berbondongbondong ke warung kopi Paman. Penonton menjadi banyak karena ada penonton

perempuan yang ingin menjadi suporter Maryamah. Sebelumnya perempuan tak

pernah menyaksikan pertandingan catur.

Aku merinding melihat puluhan papan catur telah digelar. Motif kotak hitam

dan putih bertaburan di atas meja dengan formasi melingkar berlapis -lapis, seakan

berkelap-kelip, menimbulkan pemandangan yang menakjubkan. Penonton yang

berjubel bertepuk tangan saat Maryamah dan Aziz menempati bangku masingmasing. Aku sendiri waswas melihat Paman. Apakah situasi kesehatan syahwatnya

sore ini akan membuat penyakit kepribadian gandanya memihak Maryamah atau

sebaliknya. Hal itu amat sulit diramalkan.

Maryamah hanya tampak segaris matanya karena ia memakai burkak. Rasanya

aku tak percaya melihat sebuah papan kecil di atas meja bertulisan nama Maryamah

berseberangan dengan papan nama Aziz Tarmizi. Pertama kali terjadi dalam sejarah

kejuaraan catur hari kemerdekaan, perempuan ikut bertanding dan akan melawan

laki-laki. Di tengah meja pertandingan telah dipasang selendang berwarna merah

sehingga kedua pecatur tak dapat saling memandang.

Modin mengumumkan bahwa pertandingan catur dimulai. Aku berdebar-debar.

Tahu- tahu Paman menyelinap dan duduk di bangku persis di belakang Aziz, berarti

nyata-nyata ia mendukung Aziz. Ia berbisik pada Aziz---maksudnya berbisik, tapi

nyata-nyata ia ingin setiap orang di sekitarnya agar mendengar.

“Ziz! Ziz! Jangan kecewakan Pak Cikmu ini. Kalau kau kalah, awas! Bikin malu

orang

laki saja! Perempuan itu harus diberi pelajaran! Gasak dia!”

“Baiklah, Pak Cik.”

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Sebaliknya, meskipun ekspresi wajah Maryamah tak kentara karena burkaknya,

aku tahu ia sedang gugup. Ia mendapat buah putih sehingga berhak melangkah lebih

dulu. Ia menunduk sejenak, seperti berdoa, lalu mengangkat wajah. Diamatinya

deretan buah catur di depannya, ia siap menghunus pedang. Diangkatnya sebutir

pion. Napasku tertahan. Demi Tuhan Yang Maha Esa, kuharap Grand Master Ninochka

Stronovsky berada di sini. Prajurit balok satu itu melayang lalu mendarat diiringi

gempita sorak sorai pendukungnya.

Sebaliknya, pendukung Aziz bersorak waktu Aziz melangkah pertama kali.

Lalu langkah demi langkah saling berbalas. Namun, mengagetkan, tiba-tiba menteri

Aziz telah berada dalam posisi tembak. Perempuan itu asyik saja bertahan. Sekali sekak,

raja Maryamah hampir terpelencat. Pendukung Aziz berteriak: dua puluh! Dua Puluh!

Maksudnya, seperti sesumbar Aziz di Radio Suara Pengejawantahan itu, ia kana

membunuh raja Maryamah pada langkah ke-20. Benar saja, tepat pada langkah ke-20,

sekak lagi. Raja Maryamah almarhum.

Tragis. Orang yang kami gadang-gadang kena lipat dalam waktu kurang dari 15

menit. Maryamah berkali-kali menarik napas panjang. Sungguh memilukan nasibnya.

Mitoha dan Paman terkekeh-kekeh.

Papan kedua. Aziz lebih percaya diri. Ia membuka dengan pembukaan Inggris

yang anggun tapi mengandung maut. Maryamah melangkahkan sebutir pion penuh

ragu. Aziz langsung mengganas. Perempuan itu malah kembali melakukan kesalahan

yang sama seperti tadi. Mekarlah hidung Aziz melihat lawannya tak belajar sedikit

pun dari kebodohannya di papan catur pertama tadi. Tanpa alasan yang jelas,

Maryamah malah melepaskan kuda dari sistem pertahanannya. Alvin and the Chipmunks

tak sabar. Ia berdiri dan berusaha menarik perhatian Maryamah. Ia memberi isyarat

dengan jarinya agar Maryamah menyusun formasi pembelaan Petrof seperti saran

Grand Master. Tapi, semuanya telah terlambat.

Senyum Aziz ex-player tersimpul-simpul melihat kuda nan semlohai beranginangin. Maryamah menyesali kesahan fatal tingkat amatir yang baru saja ia perbuat.

Tanpa buang tempo, Aziz mengutus menterinya untuk meraup kuda itu. Namun,

nyaris pada saat yang bersamaan, sekonyong-konyong, dengan tangkas Maryamah

meraih luncus dan menyikut benteng Aziz. Nyawa benteng itu menjadi gratis lantaran

terlepas dari mekanisme pengawalan menteri yang terbuai rayuan air mata buaya kuda

binal yang diumpankan Maryamah tadi.

Kuda itu tak lain secawan racun! Benar pendapat Detektif M. Nur, lelaki

hidung belang itu sama sekali tak tahan godaan! Aziz terperanjat. Maryamah dengan

sigap menyusun pembelaan Petrof. Belum sempat aziz berpikir panjang tiba-tiba ia kena

sekak. Lutut rajanya gemetar. Disekak sekali lagi, raja itu tertungging. Pendukung

Maryamah melonjak-lonjak. Modin susah payah menenangkan mereka. Di tengah

hiruk pikuk itu Paman bangkit, lalu tanpa malu-malu mengambil tempat di belakang

Maryamah.

Papan ketiga, penentuan.

“Mah! Mah!” panggil Paman.

“Lelaki tak berguna itu memang harus diberi pelajaran! Jangan kecewakan Pak

Cikmu

ini! Gasak dia!”

“Baiklah Pak Cik.”

Pertandingan baru berjalan beberapa langkah, namun Aziz langsung bingung

melihat perwira-perwira Maryamah mengamuk seperti angin puting beliung. Ia mati

kutu. Berkali-kali dia mengangkat wajahnya, berusaha melihat muka lawan di

seberangnya, namun syariat tak memungkinkan itu. Selendang

merah menyembunyikan kemampuan ajaib

seorang perempuan miskin yang tersia-sia, yang telah dipandang

sebelah mata oleh siapa saja. Sore ini ia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Maryamah mengangkat kudanya. Raja Aziz menghembuskan napas yang terakhir.

Penonton bertepuk tangan gegap gempita dan berusaha mendekati Maryamah

untuk menyalaminya, namun pecatur pendatang baru itu dilindungi manajernya:

Selamot. Mahmud berhasil menyelinap dan berusaha mewawancarai Maryamah. Selamot

mengadangnya.

“Mud, perlu kau tahu ya, aku ini manajer Maryamah. Karena itu, mulai s

ekarang

semua wawancara dengannya haru memberi tahuku.”

“Baiklah, Kak.”

“Apakah program ini didengar semua orang, Mud?”

“Ya, Kak, ini siaran langsung, kita sedang mengudara sekarang.”

“Na, dengarlah wahai majelis pendengar yang budiman. Aku, Selamot binti

Markam, orang Bitun, adalah manajer Maryamah. Aku angkat bicara atas nama

Maryamah.”

Mahmud mengangguk.

“Apa pendapat Kakak soal pertandingan tadi? Teknik apa gerangan yang

diterapkan

Maryamah? Hebat nian teknik itu. Apakah itu teknik catur orang Barat?”

Selamot terpana mendengar pertanyaan tingkat tinggi itu. Ia berpikir

keras, tapi kemudian teringat pada Aziz yang senang sesumbar sekehendak hatinya.

“Mud, kalau kau mau tahu, itulah yang disebut teknik catur lidah tak bertulang!”

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 25 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 25 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 9 Disini

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 33 Disini