Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 24 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 24 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 24 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Godaan
BERDASARKAN pengundian, lawan pertama Maryamah adalah seorang lelaki
bernama Aziz. Kubuka Buku Besar Peminum Kopi, kupelajari profilnya. Oh, rupanya
berada di kolom ex-player. Detailnya:
Nam a : Aziz Tarm izi
Um ur : 47 tahun
Status : duda kem bang---karena itu dia berada di kolom ex-player
Pendidikan : Madrasah Tsanawiyah, tidak tam at
Hobi : m endengarkan lagu dangdut dan disko
Artis kesayangan : Rhom a Iram a, Tan Tjen Bok
Jabatan terakhir
di m askapai timah : operator alat berat sopir truk 18 roda
Jabatan sekarang : asisten juru rias pengantin
Kopi : kopi susu, jum lah adukan 25---tipikal kopi ex-player
Kata m utiara : Ram bate rata hayo singsingkan lengan baju kalau kita m au m aju ---
belakangan aku tahu bahwa kata-kata itu ia kutip dari salah satu
lagu Kak Rhom a
Detektif swasta M. Nur mengundangku ke kantornya. Di atas meja kulihat map
pink yang bertuliskan Maryamah vs Matarom, yang dulu berada di dalam kota
dokumen masuk, sekarang di dalam kotak dokumen dalam proses. Namun, dia kesulitan
mencatat permainan Aziz karena orang itu tinggal di Tanjong Pandan.
“Jangan cemas, nges, nges,” katanya
“Aku telah menghubungi koneksiku, kepala geng pasar pagi. Dia telah kuajari
cara menulis diagram catur. Operasi ini kusebut belalang sembah.”
Saat itulah pertama kali kudengar keterlibatan Preman Cebol. Dia direkrut
Detektif M. Nur dengan imbalan melatih merpati Yanson-nya. Ratna Mutu Manikam,
nama merpati itu.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Detektif M. Nur sendiri yang memberi nama itu. Lalu kutanya soal operasi belalang
sembah. Dari mana asal usulnya? Detektif M. Nur berbisik:
“Jangan bilang siapa-siapa, Boi. Aku pernah mengintip Matarom pacaran
sama biduanita organ tunggal di belakang dermaga Olivir. Gayanya macam belalang sembah!”
Selanjutnya Preman Cebol gentayangan di warung-warung kopi. Ia
berpura-pura minum kopi dan mengisi teka-teki silang di dekat Aziz ketika orang itu
sedang main catur, padahal diam-diam dicatatnya permainan Aziz di lembar diagram
yang diselipkannya di antara lembar buku teka-teki silang itu. Detektif malah telah
membuat gambar teka-teki silangnya sendiri, namun sebenarnya kotak teka-teki itu
adalah papan catur dan nomor-nomor pertanyaannya mengandung kode-kode catur.
Sungguh lihai taktik Sherlock Holmes udik itu. Dia memberiku informasi tambahan.
“Berdasarkan investigasiku, ternyata Aziz tak ubahnya Matarom! Lelaki
hidung
belang!”
Aku menampilkan kesan terkejut, biar ia senang.
“Kau tahu maksud semua itu, Boi?”
Aku menggeleng. Detektif M. Nur mengeluarkan alat perekam, memencet
play. Terdengar suara orang melolong-lolong menjual daster di pasar pagi, kerosakkerosek. Tak ada hubungannya dengan catur dan tak ada sangkut-pautnya dengan
Aziz sang asisten juru rias pengantin. Tapi aku tak protes karena aku tahu Detektif
hanya ingin menunjukkan bahwa ia bekerja secara profesional, dan bahwa peralatan
detektifnya tak bisa dianggap enteng. Perkara rekaman itu tak jelas rekaman apa, itu
soal lain.
“Maksudnya adalah, Aziz tak lebih dari lelaki yang tak tahan godaan!”
Ini menarik.
“Jadi?
“Seharusnya gampang bagi Maryamah mengalahkannya. Jika diumpan, ia
pasti
terjebak. Jangankan buah catur, Boi, istri orang saja disambarnya!”
Berdasarkan teori Nochka, yang kemudian kuceritakan kepada Detektif M. Nur,
catur memang berhubungan dekat dengan tabiat orang. Namun, kurasa hasrat
lelaki kontet itu, yang tak terkekang untuk menjadi James Bond Melayu, telah
membuatnya melangkah terlalu jauh. Meski begitu, tetap kuhargai.
“Masuk akal sekali M. Nur. Tak kusangka kau secerdas itu!”
Selang beberapa hari, Jose Rizal menclok di jendela rumahku. Kuambil kertas
pesan darinya, kubuka.
M. Nur, Detektif
Aku terbelalak. Itu adalah kode-kode catur Aziz! Sungguh hebat aksi spionase
Detektif M. Nur. Aku makin tercengang begitu tahu bahwa kode itu diterbangkan
Ratna Mutu Manikam dari Tanjong Pandan ke kampungku, kemudian dioperkan
oleh Detektif kepada Jose Rizal sampai akhirnya tiba di tanganku. Seorang preman
pasar, dua ekor penyampai pesan lewat udara, dan seorang detektif swasta telah
terlibat dalam operasi belalang sembah ini. Aziz Tarmizi sepatutnya berhati-hati.
Kode-kode itu segera kusampaikan pada Nochka. Berkata sang Grand Master:
“Hmm, di sini terjadi peralihan dari pembukaan Inggris ke pembukaan
gambit menteri variasi Tartakower. Indikasinya di nomor 8 dan 9 itu. Kelanjutan game
itu bisa lebih aktif.”
Tak sehuruf pun kupahami maksudnya.
“Sesuai catatan waktu pada diagram, lawan ini melangkah 18 kali dalam waktu 8
menit. Itu tergesa-gesa. Dia ahli memainkan benteng, tapi pion-pionnya tidak
menepati posisi yang baik, dan ia tak dapat menahan godaan menyerah jika melihat
celah pertahanan. Sarankan pada Maryamah untuk memakai pembelaan Petrof.”
Grand Master menyampaikan diagram pembelaan Petrof untuk dipelajari
Maryamah, berikut petunjuk detail dalam situasi apa formasi itu dapat dimainkan.
Pulang dari Tanjong Pandan, di dalam bak truk timah, perutku tergelitik
dan pikiranku tak lepas dari Detektif M. Nur: kejujuran dan kepolosannya sejak
kecil dulu, khayalan-khayalan ajaib di dalam kepalanya, mimpinya untuk melatih
merpati posnya agar sepintar tukang pos, peralatan spionasenya yang konyol, dan
w ajahnya ketika dimarahi ibunya, bukankah pendapatnya senada dengan
pandangan Grand Master? Bahwa sebagai seorang lelaki dan sebagai seorang pecatur,
Aziz tak lebih dari orang yang tak tahan godaan! Fakta memang sering lebih aneh
ketimbang fiksi.
Beberapa hari menjelang pertandingan, nuansa perseteruan antarpecatur makin
memanas. Warung-warung kopi sampai tak mampu menampung pengunjung yang
ingin main catur, yang mau pamer kebolehan menggertak calon lawan, yang berlatih
untuk pertandingan nanti,
atau sekadar membicarakan pertandingan. Topik yang paling seru tentulah soal
Maryamah.
Sesekali Matarom dan Mitoha hadir di warung kopi untuk melakukan
ekshibisi, misalnya, catur simultan atau membunuh cepat dengan batas tempo tertentu.
Perwira-perwira catur perak hitam berdiri tegak dalam formasi perang nan
garang. Wajah mereka tak menyisakan selembar pun belas kasihan pada lawan.
Jika Matarom datang, pegawai negeri pulang cepat. Tak peduli sanksi tata tertib.
Toko- toko tutup. Terasi dirubung lalat. Busuk ikan di stanplat. Warung-warung kopi
lain menjadi sepi lantaran semua orang berhamburan untuk melihat papan catur perak
yang misterius dan menyaksikan sepak terjang Rezim Matarom. Setiap kali Matarom
memegang buah hitam perak, para penonton menahan napasnya.
Sementara itu, Maryamah dan Alvin and the Chipmunks, susah payah memahami
maksud Grand Master. Aku salut pada tekad Maryamah. Ia mengulangi petunjuk Grand
Master sampai beratus-ratus kali, tak pernah lelah. Sebaliknya, kutemukan pula bakat
Alvin. Ia memang nakal, tapi rupanya ia memang anak yang cerdas. Bukankah anak
yang cerdas selalu anak yang nakal? Namun, anak pendiam juga sering merupakan
anak yang cerdas. Macam aman bisa begitu? Aku tak tahu.
Dengan cepat, Alvin menguasai kode-kode diagram catur. Bahkan, dengan
iseng ia mampu membuat isyarat lewat jemarinya untuk kode-kode tertentu. Jari
telunjuk ke atas, artinya pembukaan India. Jari telunjuk ke bawah, pembukaan
Perancis. Dalam pada itu, aku mencatat kemajuan Maryamah dan melaporkannya pada
Grand Master. Aku gembira waktu dia berkata bahwa Maryamah telah menerjemahkan
instruksinya dengan benar.
“Aku tertarik pada pola pertahanannya. Sangat menjanjikan.”
Namun, aku tetap saja gugup sebab lawan yang bisa dikalahkan Maryamah
barulah aku dan Alvin and the Chipmunks. Itu sama sekali tak bisa dijadikan ukuran.
Karena aku memang tak pernah menang melawan siapa pun, sedangkan Alvin and the
Chipmunks, tak lebih dari anak kelas 4 SD yang tak bisa diam. Apalagi, Aziz telah
sesumbar pada Mahmud, penyiar Radio AM Suara Pengejawantahan.
“Dua puluh langkah! Dua papan tak terbalas,” katanya bicara sekehendak hatinya
untuk majelis pendengar yang budiman. Kurang ajar betul lelaki ex-player itu. Wajar
saja sudah dua istri minggat darinya.
Akhirnya, hari pertandingan tiba. Malamnya, tak sepicing pun aku bisa tidur.
Aku yakin Detektif, Preman Cebol, Giok Nio, Selamot, Alvin, dan Jose Rizal, juga
mengalami malam yang panjang. Esok sore semuanya akan ditentukan. Sangat
berbeda dengan Maryamah. Aku berjumpa dengannya pagi hari sebelum pertandingan
itu. Tampak jelas ia tak yakin apakah akan menang atau kalah, namun dia gembira.
Mungkin karena dia telah
mendapatkan medan peperangannya.
Berani
Dalam sembarang waktu dan ruang
Telah disediakan untukmu
Medan untuk berperang
Beranikah engkau menghunus pedang?
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 24 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 24 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar