Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 1 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 1 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 1 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Purnama Kedua Belas
SEPERTI dugaanku, jika hujan pertama jatuh tepat pada 23 Oktober, ia masih akan
berinai- rinai sampai Maret tahun berikutnya. Rinainya akan pudar menjelang pukul
tiga sore bersama redupnya alunan azan asar. Setelah itu, matahari kembali merekah.
Cahaya Tuhan, sebagian orang menyebutnya, yakni semburat sinar dari langit
yang menerobos celah awan-gemawan, tembus sampai ke bumi berupa batang-batang
cahaya, sering tampak pada sore nan megah itu. Jika ia menghantam ombak,
bahkan angin tak berani mendekat. Samudra mendidih.
Yang kumaksud dengan sebagian orang itu adalah para seniman-pelukis atau
mereka yang jatuh hati pada fotografi, dengan mata yang mampu melihat alam sebagai
sebuah karya seni.
Pukul empat sore, tampak matahari perlahan melintas untuk menyelesaikan
sisa edarnya di langit bagian barat. Sejurus kemudian biru. Biru merajai angkasa.
Suatu warna yang tak hanya dapat dipandang, tapi seakan dapat ditangkap, dapat
dirasakan; lembut, menyelinap ke dalam dada. Hanya sekejap, tak lebih dari dua
menit, lalu matahari menghamburkan lagi warna jingga yang bergelora.
Blue moment begitu sebutan para seniman tadi untuk dua menit nan memukau
itu. Mereka cepat-cepat mengemasi kanvas, dudukan kamera, atau sekadar
melamun, untuk menyergap moment itu. Seratus dua puluh detik nan ajaib,
angkasa yang biru membuat seluruh alam berwarna biru. Batu-batu menjadi biru.
Pohon kelapa menjadi biru, perahu, jalan setapak, ilalang, gulma, burung-burung pipit
semuanya membiru. Bahkan angin menjadi biru. Para seniman itu terlempar ke dalam
surga di dalam kepala mereka sendiri. Konon, ujar cerdik cendikia, sangat sedikit
tempat di muka bumi ini yang memiliki blue moment. Namun, ia sering hadir di pantaipantai indah di pulau kecil kami---Belitong, di penghujung musim hujan, kalau
sedang beruntung. Setelah itu, abang sang sore: senja, datang dengan diam-diam,
berjingkat-jingkat, mengendapendap.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Gelap pun hinggap, tapi tak lama. Menjelang pukul sepuluh malam, purnama kedua
belas yang belum sempurna mengintip-intip. Sebentar kemudian, langit kembali cerah.
Rasi belantik dapat dipandang dengan mudah.
Pukul dua belas malam, orang-orang suku bersarung keluar rumah. Di
pekarangan, mereka berkumpul membentuk lingkaran dan menggumamkan
mantra-mantra untuk menghormati purnama yang dahulu kala pernah mereka
sembah sebagai Tuhan, dan sekarang masih mereka hormati sebagai penjaga setia
pasang-surut laut. Mantra mendayu menjadi lagu, lalu lagu tergubah menjadi rayu.
Orang-orang sawang bertolak naik perahu, menyerbu terumbu-terumbu,
berkejar- kejaran dengan ombak yang tak melawan dan angin yang berkawan.
Orang-orang Tionghoa, tanpa banyak cincong, buka bakiak, tiup lampu minyak,
naik ke dipan, cincai. Mereka telah bertamasya ke pulau kasur sejak pukul delapan tadi
kar ena esok subuh harus cepat bangun untuk kembali bekerja keras.
Orang-orang Melayu, tengah malam buta itu, menghempaskan gelas kopinya
yang terakhir di atas meja warung, lalu pulang beramai-ramai naik sepeda, masih
saja ngomel- ngomel pada pemerintah.
Ω
Tak terasa dua musim telah lewat sejak aku membatalkan diri untuk merantau ke
Jakarta karena rasa cinta, yang dengan malu-malu harus kuakui---tak terbendung--
-pada seorang perempuan Tionghoa bernama A Ling.
Sering kulamunkan, bagaimana aku, seorang anak Melayu udik dari keluarga
Islam puritan, bisa jatuh cinta pada perempuan Tionghoa dari keluarga Konghucu
sejati itu. Ia tentu memiliki semua hak untuk menempatkan dirinya dalam pikiran
yang sama seperti pikiranku barusan. Namun, Kawan, seandainya kita bisa tahu
dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta seperti tak ada lagi hari esok, maka
beruk bisa melamar pekerjaan menjadi ajudan bupati.
Dalam pada itu, hari ini, kudapati diriku masih duduk di sini, sebagai pelayan W
arung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, yang tak lain punya pamanku sendiri. Kulihat masa
depanku terbentang beriak-riak bak arus Sungai Linggang sejauh mata memandang
melalui jendela warung kopi ini. Di balik batas mata memandang itu adalah Jakarta, dan
di sana masa depan masih misterius bagiku.
Kawan tentu tak lupa bahwa dulu aku terpelencat ke dalam pekerjaan ini sebagai
bagian dari perjanjian tak tertulis dan ujung gerutuan panjang ibuku, yang tak habis
-habis serinya macam sinetron, yang pada pokoknya, secara blak-blakan, tak sudi
menerimaku berada di kampung dalam keadaan menganggur, meski hanya sehari saja.
Tak sudi.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
“Lelaki muda, sehat walafiat, terang pikiran, dan punya ijazah, tidak
bekerja? Sepatutnya disiram dengan kopi panas!” begitu ancaman terakhir Ibu.
Maka, dengan perasaan terpaksa, aku berangkat kerja pagi-pagi. Melalui
jendela, sambil mengunyah sirih, Ibu menatap setiap langkahku. Tatapannya adalah
mata belati yang menikam pinggangku. Efek tatapan itu kadang kala masih marak
sampai sore dan hanya bisa kuredakan dengan menenggak dua butir pil pening kepala.
Sampai di warung kopi, aku disongsong oleh omelan pamanku, yang sangat tidak
suka pada pemerintah, yang menganggap masyarakat semakin amoral, dan yang
karena suatu penyakit kandung kemih yang aneh membuatnya tak bisa menampilkan
suatu performa pada tingkat paling minimal sekalipun. Dengan menyebut lokasi
penyakit itu, Kawan tentu mafhum maksudku dengan performa tadi. Akulah yang
kemudian menjadi tempatnya menumpahkan semua kegagalan politikal, sosial, dan
personalnya itu. Terlalu tak tahu adatkah aku ini jika
yang terakhir tadi---personal itu---kutulis seksual saja?
Keadaan semakin tak menyenangkan, yaitu barangkali karena kekecewaannya
pada diri sendiri, lambat laun Paman menjadi orang yang gamang. Paranoid, kata
orang Jakarta. Mungkin kurang tepat istilah itu, tapi apalah peduliku. Jadilah ia
selalu menuntut untuk diyakinkan. Hal itu kemudian menjadi bagian paling sarkastik
dalam omelannya.
“Kaudengarkan apa yang kubicarakan ini, Boi?” begitu selang beberapa waktu jika ia
menyemprotku. Ia harus mendapat jawaban yang meyakinkan, tak cukup dengan
anggukan saja, bahwa aku mendengar setiap sampah dari mulutnya yang ia
lontarkan sekehendak hatinya itu. Kalau tidak, ia akan terus ngomel seakan ada
peternakan omelan di dalam mulutnya.
“Kudengar, Pamanda, kudengar,” jawabku sambil melenggang pembawa puluhan
gelas kopi di atas nampan. Dalam keadaan semacam itu, sering aku berhenti sejenak
dan menengok ke atas: Wahai Tuhan yang sedang duduk di singgasana langit ketujuh, inikah
kehidupan yang KAU-berikan padaku?
Namun, pada saat tertentu yang tak dapat diramalkan, Paman tiba-tiba bisa
menjadi sangat lembut. Suaranya lemah dan puja-pujinya melambung bahwa seumur
hidupnya ia tak pernah melihat seorang pria yang begitu halus perangainya dan begitu
rajin bekerja sepertiku. Tanpa alasan yang masuk akal, ia bahkan sering menyebutku
tampan dan bertubuh atletis. Bahwa sorot mataku lendut dan bulu mataku lentik
seperti boneka dari India. Lantas, selorohnya, sejak aku mengabdi padanya---
pelanggan warung kami semakin banyak. Reputasi warungnya semakin harum.
Ditepuk-tepuknya pundakku dengan penuh kasih sayang, lebih sayang dari anaknya
sendiri. Lalu ia berbalik, melihat meja-meja kopi, dan berbalik lagi.
“Bujang! Tidakkah kau tengok gelas kotor itu? Cuci sana. Dasar pemalas! Tak
berguna sama sekali!”
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Pelajaran moral nomor 20: persoalan syahwat adalah asal muasal penyakit
jiwa kepribadian ganda.
Namun, semua penderitaan itu terbayarkan jika aku mengingatkan diriku
sendiri bahwa semua kesusahan jiwa dan raga itu, dari pagi sampai petang itu,
adalah demi ketenteraman hati ibuku dan lebih indah lagi, demi masa depanku dengan A
Ling.
Ah, jika aku terkenang akan perempuan Tionghoa itu, akan senyumnya ketika
melihat, aku merasa ganteng dan tinggi. Jika terkenang akan kuku-kukunya yang
menawan, akan caranya mengucapkan huruf R, serta satu kemungkinan pada suatu
hari kelak, ia berjumpa dengan teman-teman lamanya di sekolah nasional dulu dan
berkatalah dia.
“Aih, maaf. Saking asyik ngobrol, sampai aku lupa. Ini suamiku, Ikal.”
Aku merasa sayap tumbuh di bawah kedua ketiakku, dan aku bersyukur pada Yang
Mahatinggi untuk menciptakan huruf R dalam sebaris kalimat perkenalan yang penuh pesona itu.
Saban sore, aku melihat A Ling berdiri di samping sepedanya, di depan warung
kami, menungguku pulang kerja. Matahari sore yang kuning menerpa wajahnya. Sebuah
kecantikan yang tak dapat dibatalkan. Ia menunggu dengan tak sabar, sesekali ia
mendengus dengan ketus, dan aku mendapat alasan mengapa aku dilahirkan ke muka
bumi ini sebagai orang Melayu, meski udik sekalipun, biarlah, suka-suka Tuhanlah.
Karena semua itu---paras kuku, huruf R, dan perkenalan itu---lebih dari cukup bagiku
untuk menahankan penindasan habis- habisan dari pamanku. A Ling sendiri bekerja di
toko Zinar. Kami sepakat menabung sedikit demi sedikit untuk mempersiapkan
keberangkatan kami ke Jakarta dan menyongsong masa
depan nan gilang-gemilang. Oh, sungguh mengharukan.
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 1 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 1 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar