Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 37 Disini


Novel Cinta di Dalam Gelas bab 37 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 37 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 1 Disini

Novel Cinta di Dalam Gelas bab 1 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.

Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 1 Bahasa Indonesia Sekarang ini. 

Ex-Player

MINGGU pagi yang menyenangkan. Perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus semar

ak. Perahu-perahu nelayan di dermaga berwarna-warni karena di haluannya di

pancang tiang kecil dan di tiang itu berkibar bendera merah putih, yang juga kecil,

dari kertas kajang. Sesama mereka---bendera-bendera kecil itu---seakan saling

melambai dan bercakap-cakap. Toko A Fung, pas di depan warung kopi Paman. Punya

tiang bendera yang tinggi. Meskipun kepala kampung Ketua Karmun menyarankan

agar bendera dipasang mulai 10 Agustus, A Fung sudah menaikkan bendera sejak 1

Agustus. Paman, tak mau kalah. Tahun ini ia memasang tiang bendera bambu

betong yang lebih tinggi dari tiang bendera A Fung. Benderanya juga ia kerek

sejak tanggal 1, tapi bulan Juli. Setiap tahun, Paman dan A Fung selalu bersaing tinggitinggian tiang bendera dan dulu-duluan mengerek merak putih.

Warung kopi baru saja buka. Paman duduk di kursi malasnya sambil membaca

buku Neraka Jahanam. Jika Paman membaca buku itu, satu firasat selalu menusukku, ia

pasti akan marah. Meskipun pandangan itu tak selalu benar.

Faktanya, Paman dapat marah sembarang waktu tanpa alasan apa pun. Jika

matahari menerpa wajahnya lalu ia bersin dan lupa memegang selangkangnya, hal itu

lebih dari cukup baginya untuk mendamprat kami sepanjang hari.

Angin pagi bertiup semilir. Burung-burung dara menggerung-gerung mesra.

Warga Tionghoa membuka deretan papan penutup tokonya sambil menyapa orangorang yang lewat. Pasar masih sepi dan lambat, lalu pecahlah kedamaian itu. Paman

bangkit dari tempat duduknya, langsung marah dengan tingkat apokaliptik, persis buku

yang tadi di bacanya.

“Siapa yang berhak dimarahi?”

Kami, jongosnya, serentak menunjukkan tangan tinggi-tinggi.

“Siapa yang berhak memarahi?”

Kami menunjuknya dan ia langsung ke pokok omelan.

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

private-ebook.blogspot.com

“Kita ini sudah menjadi warga negara yang baik! Kita tak pernah protes -

protes! Kita sudah tunduk patuh pada hukum. Kita sudah membayar pajak. Tapi

tengoklah! Tengoklah! Balasan pemerintah pada kita! Harga-harga dinaikkannya

sekehendak hatinya!”

Sebenarnya ini marah kemarin yang tertunda. Dan jika Paman marah, kami

otomatis harus menghentikan apa pun yang sedang kami kerjakan, untuk

menyimaknya, dan jangan coba-coba tak acuh, perkara bisa runyam.

“Politisi, anggota DPRD, menteri pendidikan, sama saja! Mereka selalu bicara atas

nama rakyat. Tahukah kalian? Kalau mereka bicara atas nama rakyat, maka mereka

bicara atas nama saya! Karena saya ini adalah rakyat! Sekarang, harga bahan pokok

mahal! B iaya sekolah melambung! Mereka telah melupakan nilai-nilai kepanduan! Trabel!

Trabel!”

Kemarin Paman berjalan-jalan dengan cucunya keliling pasar, warga Khek

mengeluhkan harga-harga yang naik. Mereka malah kasihan pada pembeli, bukannya

melihat hal itu sebagai peluang untuk mengeruk keuntungan.

“Pejabat mencuri, korupsi, tertawa-tawa di televisi, kita diam saja! Tak pernah

kita macam-macam. Pemerintah benar-benar tak punya perasaan! Politisi tak tahu adat!”

“Pamanda, Pamanda ….”

Seorang lelaki muda memanggil Paman. Lelaki itu berdiri di belakang Paman

bersama istrinya dan seorang anak perempuan kecil yang mungkin berumur tiga

tahun. Anak itu menggemaskan sekali, tembam, dan berkuncir kuda. Mereka adalah

keluarga adik ipar Paman yang melewatkan libur dengan menginap di rumah Paman.

Mereka mau pamit untuk pulang ke kampungnya.

Paman berbalik, dan serta-merta, kedua tanduknya terisap ke dalam

kepalanya. Wajahnya berubah 180 derajat, dari yang tadinya jahat, menjadi lembut.

“Amboi, aih, aiihhh, Putri Kecilku ….”

Dirayu-rayu begitu, anak kecil itu tersipu-sipu. Ia memeluk kaki ayahnya.

Paman menggodanya dengan melompat-lompat seperti kelinci. Anak itu cekikikan

mendengar suara Paman yang dibuat-buat sehingga berbunyi aneh dan lucu.

Sesekali Paman menjentik kuncirnya. Anak itu menjerit-jerit manja dan minta tolong

pada ayahnya.

Paman mendesak mereka agar memperpanjang waktu menginap, dan hal itu

bukanlah basa-basi. Selain terkenal sangat galak, Paman juga terkenal sangat sayang

pada keluarga. Ia adalah paradoks yang membingungkan, sekaligus memesona. Lalu,

dengan nada penuh simpati, Paman menanyakan pada sang ayah tentang

perjalanannya yang jauh. Bagaimana

ditempuhnya dengan sepeda sambil membonceng anak-istrinya. Adakah kesulitan?

Cinta Di Dalam Gelas Ampuniaku AndreaHirata

“Tak ada soal, Pamanda. Sekarang jalan sudah sangat bagus. Aspal terus sampai ke

rumah. Walaupun hujan, jalan tidak lagi banjir.”

Paman mengangguk-angguk senang sebab keluarga itu tidak akan

menemukan hambatan.

kecil.”

“Baguslah, pemerintah dan politisi sekarang memang lebih memperhatikan rakyat

Paman juga bertanya tentang sekolah anak-anak adik iparnya, kaka dan abang

dari si kecil yang menggemaskan itu, mereka di Sekolah Dasar.

“Oh, sekolah juga sudah baik, Pamanda. Tak ada masalah. Guru-guru sudah lengkap.

Fasilitas sekolah sudah bagus. Anak-anak sekolah dengan baik.”

Wajah paman seperti ingin menangis, suaranya sendu.

“Prestasi menteri pendidikan memang sangat mengesankan belakangan ini.

Sangat berbeda dengan ketika Paman masih muda dulu. Sekarang zaman sudah

berubah. Menteri pendidikan dewasa ini adalah orang yang taat beragama. Ia

juga seorang sarjana yang lumayan di sekolahnya. Kurasa hanya satu kata untuk

menggambarkan apa yang telah diperbuatnya untuk rakyat.”

“Apa itu, Pamanda?”

“Mengagumkan.”

Si adik ipar mengangguk-angguk.

“Anggota DPRP pun tak kalah hebat. Mereka adalah orang-orang muda dan

terpelajar. Tak seorang pun yang tak sarjana, dari berbagai jurusan. Mereka sangat

peduli pada rakyat. Satu kata pula untuk menggambarkan dedikasi mereka.”

“Apa itu, Pamanda?”

“Mengharukan.”

Si adik ipar mengangguk-angguk lagi. Suara Paman sendu lagi.

“Konon, anggota-anggota DPRD itu tak mau makan, sebelum rakyatnya makan.”

Si adik ipar kembali mengangguk takzim.

“Terus terang,” ujar Paman dengan serius.

“Aku tak habis mengerti, mengapa orang-orang gampang sekali mengatangatai pemerintah. Kalau bicara, sekehendak hatinya saja. Apa mereka kira

gampang mengelola negara? Mengurusi ratusan juga manusia? Yang semuanya tak

bisa diatur. Kalau mereka

sendiri yang disuruh mengurusi negara, tak becus juga!”

Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata

Paman menepuk-nepuk bahu adik iparnya, seakan banyak sekali hal di

dalam pikirannya yang ingin ia tumpahkan, tapi ia tahu bahwa keluarga adik iparnya itu

ingin pamit. Keluarga kecil dari kampung yang bersahaja itu mengucapkan salam.

Mereka beranjak. Paman memandangi mereka sampai jauh sambil melambailambaikan tangannya. Lalau ia berbalik.

“Boi! Sampai di mana aku tadi?”

Tanduknya tumbuh lagi.

“Sampai … politisi tak tahu adat, Pamanda!”

“Yakinkah kau?”

“Yakin, Pamanda.”

“Mendengarkah kau apa yang kubicarakan

tadi!?” “Mendengar, Pamanda, mendengar.”

“Kurasa aku tadi sampai pemerintah kurang ajar!”

“Tidak, Paman, Pamanda tidak pernah mengatakan pemerintah kurang ajar.”

“Apa katamu? Tidak pernah? Melihat situasi sekarang, sepatutnya hal itulah

yang

kukatakan!”

Aku agak ragu, tapi perasaanku tadi omelan Paman sampai pada politisi tak tahu

adat. Lagi pula kata kurang ajar adalah kata yang kasar. Setahuku, Paman tak pernah

menghunus kata itu. Melihatku sangsi, Paman muntab.

“Berarti kau tak mendengar bicaraku tadi! Kau , politisi, pemerintah,

menteri pendidikan, anggota DPRD, sama saja! Kalian setali tiga uang! Rakyat

setengah mati, mereka membeli mobil dinas mewah-mewah pakai uang rakyat. Tak

punya perasaan.”

Kucoba mengingat-ingat, sampai mana semprotan Paman tadi. Aku yakin

pada pendapatku. Aku perlu pembela. Aku menoleh pada Rustam. Rustam takut,

tapi caraku memandang, mendesaknya.

“Benar, Pamanda, tadi Pamanda sampai politisi tak tahu adat ….”

Paman terlanjur murka.

“Kau dan Ikal, bujang lapuk karatan! Telinga wajan! Baiklah, kuulangi lagi!”

Seandainya tak muncul Aziz Tarmizi, gerutuan itu belum akan berhenti.

Tak macam biasanya, Aziz datang dengan wajah sembap. Semangat “Rambate rata hayo

singsingkan lengan baju kalau kita mau maju” tak tampak pagi ini. Lalu, dengan pedih ia

berkisah padaku bahwa ia merasa telah dizalimi klub Di Timoer Matahari. Katanya

ia ditumbalkan dalam persekongkolan untuk menggiring Maryamah menuju Patriot

Trikora tempo hari. Muslihatnya adalah ia disuruh Mitoha mengalah pada Maksum.

Persekutuan setan itu menjadi berantakan karena ternyata Maryamah berhasil

menggulung Patriot. Sekarang, Aziz ingin membalas sakit hatinya dengan cara

membelot ke klub kami.

Niat Aziz kusampaikan pada Selamot, Giok Nio, dan Detektif M. Nur.

Selamot menjawab dengan gaya politisi.

“Nama klub kita, Kemenangan Rakyat Adalah Kebahagiaan Kita Semua. Semua itu

berarti

dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka kita harus bersedia menerima siapa saja.”

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 37 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 27 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 37 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.

Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 37 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua. 

Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.

Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.

Komentar