Silahkan Baca Novel Cinta di Dalam Gelas Bab 45 Disini
Novel Cinta di Dalam Gelas bab 45 bahasa indonesia bisa kamu baca dengan gratis di situs novel ini, Novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan tentang kisah tugas berat di pundak Ikal. Dia harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustus nanti.
Kamu dapat membaca novel ini hingga selesai, Sama Seperti membaca novel di aplikasi-aplikasi novel yang tersedia sekarang ini. Tunggu apalagi mari Baca Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 45 Bahasa Indonesia Sekarang ini.
Indonesia Raya
UMBUL-UMBUL telah dipasang di kiri-kanan jalan menuju Warung Kopi Usah Kau
Kenang Lagi. Masyarakat berduyun-duyun ingin menyaksikan pertandingan final catur
yang istimewa, bukan hanya karena perempuan melawan lelaki, dan lelaki itu adalah
kampiun catur tiada tara sekaligus mantan suaminya, tapi juga sejak memakzulkan
Overste Djemalam, reputasi Maryamah meroket. Sekarang ia dianggap pecatur kelas
atas yang karismatik. Berminggu- minggu ia telah diremehkan di warung-warung
kopi, sekarang tak sesuku kata pun lelaki Melayu yang banyak omong itu berani
menafikannya.
Di arena catur tahun ini perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus benar-benar
terasa. Kaum perempuan pedagang kecil yang berunjuk rasa untuk mendukung
pendaftaran Maryamah tempo hari tiba dalam satu rombongan besar yang meriah.
Juragan-juragan toko Tionghoa bergabung dengan orang-orang Sawang, Melayu, dan
orang-orang bersarung serta juragan-juragan perahu mereka. Semuanya ingin
menyaksikan seorang perempuan yang digembar-gemborkan sangat lihai main catur.
Para penonton penggemar klenik juga sangat banyak. Mereka tak paham catur, tapi
ingin melihat papan catur perak yang magis itu. Mereka hadir dari pelosok pulau dalam
pakaian serbahitam.
Mitoha secara resmi telah meminta pada Modin untuk memakai papan catur
perak Matarom pada laga final. Tentu saja karena ia ingin menjatuhkan mental
Maryamah dengan segala kabar ilmu hitam dan fakta bahwa Matarom tak pernah
terkalahkan jika berlaga dengan papan itu. Modin menyarankan agar kami
menerima permintaan Mitoha, sebab ia dan golongan Islam garis kerasnya ingin
sekali membasmi praktik klenik di kampung. Jika Maryamah menang, segala teori
pendukunan otomatis akan patah. Kami sepaham Modin.
Penonton kian berjubel. Yang tak dapat menyisipkan diri di antara kerumunan
duduk berdempet-dempet di pagar serambi. Untuk mengantisipasi kericuhan, Sersan
Kepala minta bantuan petugas penertiban pamong praja. Sehelai selendang merah
dibentangkan di atas meja tanding untuk menghalangi pandangan kedua pecatur
yang tadinya suami-istri, tapi
sekarang bukan muhrim
itu.
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Matarom, pemegang sabuk juara bertahan, datang bersama Mitoha dan
Master Nasional Abu Syafaat. Ia langsung duduk di tempatnya. Dinyalakannya
cangklong diisapnya, dan didiamkannya asap berkelana sebentar di dalam mulutnya,
lalu disertai tepuk tangan pendukungnya, diembuskannya asap cangklong itu. Semua
itu---sikap duduknya, embusan asap cangklongnya, dan seringainya---merupakan
pernyataan bahwa pertandingan itu tak lebih dari soal remeh-temeh saja, dan
bahwa jarak antara dirinya dan dengan juara abadi hanya tinggal dua game yang
akan ia akhiri secara tragis bagi Maryamah. Namun, ia kaget karena mendengar
tepuk tangan yang ramai. Melalui mikrofon, Modin bersusah payah menenangkan
penonton. Maryamah tiba.
Maryamah dikawal oleh lapis pertama sekondannya: Giok Nio, Alvin and the
Chipmunks, Lintang, Detektif M. Nur dan Preman Cebol. Semuanya pakai baju
baru. Alvin sibuk memamah biak permen telur cecak. Maryamah sendiri berbaju
sari macam wanita India. Burkaknya jingga. Ketika ia berjalan, selendangnya
berkibar-kibar. Aura penantang yang tak kenal takut terpancar kuat darinya, bahwa ia
bukan lagi Maryamah sang pendulang timah, ia adalah pecatur perempuan yang
menggetarkan lawan. Namun, tak seperti biasanya, Maryamah sendirian. Orangorang bertanya, di manakah gerangan manajernya, Selamot? Kami pura-pura tak
tahu.
Maryamah duduk. Kemudian terdengar lagi tepuk tangan, tapi agak ragu.
Rupanya hadirin menyambut yang datang bersama seseorang yang asing. Orang itu
berjalan dengan tenang dan mengangguk pada setiap orang. Ia berperawakan
sedang, tapi di antara orang Melayu ia kelihatan paling tinggi. Ia memakai kaus,
celana jins, dan scarf berwarna biru. Cantik sekali. Kulitnya putih, rambutnya
pirang. Rupanya yang sangat berbeda menarik perhatian setiap orang. Bisik-bisik
merebak. Melihat orang itu, Mitoha, Overste Djemalam, dan Master Nasional Abu
Syafaat tertegun seperti melihat hantu. Modin mengucek-ngucek matanya karena tak
percaya dengan apa yang dilihatnya. Mulutnya ternganga, kacamatanya merosot.
Mikrofon di dekatnya menangkap suara yang tak sadar ia ucapkan.
“Ni … Ni … Ninochka Stronovsky ….”
Mereka yang mengikuti perkembangan dunia catur seperti Mitoha, Overste
Djemalam, Master Nasional Abu Syafaat, Modin, dan beberapa orang lainnya, tentu
kenal Ninochka Stronovsky. Mereka yang familier dengan nama itu, namun tak
pernah melihat wajahnya, terperangah. Mereka yang tak mengenalnya sama sekali
ikut-ikutan seperti kenal agar tak dianggap orang udik, biasa orang Melayu.
Mendengar namanya disebut, Nochka berhenti dan menoleh pada Modin.
Ia tersenyum dan menunduk. Modin gugup dan agaknya ingin
mengucapkan pidato penyambutan dalam bahasa Inggris, tapi kosakatanya terbatas.
Ia melanjutkan dalam bahasa Indonesia
“Saudara-saudara, suatu kehormatan bagi kita. Grand Master Ninochka
Stronovsky, salah satu pecatur perempuan terbaik dunia, akan menyaksikan pertandingan
final ini.”
Tepuk tangan yang tadi ragu kini menjadi pasti. Mereka yang tak kenal
bertepuk tangan paling keras. Nochka membekapkan tangannya di dada dan
mengangguk-angguk ke semua arah. Tepuk tangan untuknya sangat meriah dan
panjang. Banyak orang berdiri tanda salut pada Grand Master. Sejenak kedua kubu
sekondan melupakan pertikaian. Mitoha menoleh padaku. Pandangannya sulit
kulukiskan dengan kata-kata. Terbongkarlah misteri besar tentang kemampuan
Maryamah. Ia sekarang tahu ke mana diagram-diagram catur itu kubawa.
Nochka duduk di sampingku dan memintaku menerjemahkan setiap ucapan
Modin. Ia tertawa mengetahui nama klub-klub catur yang unik dan ia tampak amat
tertarik. Katanya, di mana pun ia tak pernah melihat orang menonton catur seperti
menonton sepak bola, ribut.
Modin mengumumkan bahwa sesuai tradisi pada pertandingan final, akan
diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa diminta, hadirin yang duduk
serentak berdiri. Orang-orang suku bersarung, membetulkan sarungnya. Orang-orang
Sawang yang gagah, berdiri tegak. Orang-orang Tionghoa merapatkan barisan.
Orang-orang
Melayu yang tadi hiruk pikuk, mendadak diam. Ninochka Stronovsky berdiri dengan
khidmat.
Lalu, melalui tape recorder, mengalirlah lagi kebangsaan itu. Semua menyimak dan
hanyut terbawa kemegahan lagu Indonesia Raya.
Mereka yang bertopi menghormat pada bendera merah putih besar yang
berkibar- kibar di puncak tiang di pekarangan warung. Maryamah membekapkan
tangannya di dada. Selamot berkaca-kaca matanya, mungkin ia teringat pada calon
presiden perempuan itu. Paman meskipun tak bertopi, juga menghormat. Dengan
lantang ia ikut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Lagu itu usai, tepuk tangan gegap
gempita. Pertarungan dahsyat dimulai.
Maryamah dan Matarom berhadap-hadapan. Sungguh mendebarkan. Maryamah
mendapat buah putih. Yang diharapkan para penganut pendukunan terkabul, yakni
pada tarung papan pertama, Matarom akan memimpin tentara-tentara iblisnya.
Matarom tersenyum. Dapat kurasakan Maryamah sedikit banyak terkorupsi oleh
sugesti. Ia berusaha menguatkan diri untuk menghadapi lawan multidimensi. Ia bukan
hanya akan melawan pecatur brilian di depannya, namun juga berkelahi melawan apa
yang dipercayai oleh lelaki- lelaki berpakaian serbahitam yang nanar menatapnya.
Maryamah membuka dengan pembukaan Spanyol yang konservatif. Beberapa
langkah berikutnya kedua pecatur mulai terlibat perselisihan tingkat mahir. Matarom
memasang formasi untuk memancing serangan luncus Maryamah. Maryamah mencium
gelagat itu, ia tak terayu dan berkonsentrasi pada kudanya. Tanpa sebersit pun ia
menduga bahwa Matarom sengaja memancing luncusnya karena ia sudah tahu bahwa
siasatnya akan terendus dan Maryamah akan terfokus pada kudanya. Ini semacam tipuan
dalam tipuan dalam tipuan.
Berarti muslihat berpangkat banyak, pecatur tingkat sinuhun seperti Matarom
mampu memperkirakan kemungkinan sampai 5 langkah ke depan.
Maryamah terperosok ke dalam perangkap. Tak lama kemudian perwira-perwira
Matarom siap mengokang senapan untuk memuntahkan peluru. Pendukungnya riuh
melihat jagoannya mau menyerbu.
Nochka diam dan tampak sangat tenang. Ia mengangguk-angguk seakan
mengakui kemampuan Matarom. Matarom mencoba menyerang beberapa kali, tapi
tidak efektif. Dicobanya lagi, gagal lagi. Setelah berulang kali gagal, ia sadar bahwa ia
bisa masuk ke dalam situasi yang dialami Overste Djemalam waktu dilibas Maryamah.
Serangan terus-menerus hanya akan membuatnya melakukan pelemahan sendiri.
Disertai gerutuan pendukungnya, Matarom menawarkan remis. Maryamah menerima.
Nochka mengangguk-angguk.
“Hmm, interesting,” katanya.
Para pria berpakaian serbahitam terpaku. Wajah mereka yang tadi gembira dan
benci berubah menjadi ragu. Master Nasional Abu Syafaat geram. Ia memanggil
Matarom dan mencak-mencak memberi arahan. Baginya, seharusnya Matarom menang
papan pertama tadi.
Nochka berbisik padaku. Kudekati Maryamah.
“Kak, kata Nochka, pakai pertahanan kombinasi benteng dan blok raja secepat
mungkin.”
Papan kedua berlangsung mirip papan pertama. Pertandingan berlangsung
penuh intaian marabahaya. Keringat membasahi burkak Maryamah. Matarom berusaha
sekuat pikiran menundukkan lawan, tapi tetap tak bisa menembus pertahanan. Master
Nasional Abu Syafaat menatapku dan Nochka dengan tajam. Ia tahu bahwa Nochka
telah membaca siasatnya. Pertarungan ini rupanya tidak hanya Maryamah melawan
Matarom, ilmu putih melawan ilmu hitam, atau keberanian melawan kesombongan,
tapi juga antara Grand Master Ninochka Stronovsky melawan Master Nasional Abu
Syafaat.
Serangan Matarom tak berarti, dan tak ada pilihan lain kecuali remis lagi. Dua
papan berlalu, skor masih seri. Para penggemar ilmu hitam kembali bergairah. Sekarang
dari ragu wajah mereka berubah menjadi bengis. Adapun Master Nasional Abu Syafaat
makin geram. Tangannya menunjuk-nunjuk. Aku tak tahu strategi apa yang
diajarkannya pada Matarom, tapi dari dua pertandingan tadi Nochka pasti dapat
mengantisipasi tindakan Master Nasional Abu Syafaat selanjutnya. Dia membisikiku.
“Grunfeld Hindia, left wing, attack!”
“Oke, Grand Master.”
Kuhampiri Maryamah.
“Kak, pakai teknik Grunfeld Hindia. Sayap kiri raja, serang!” Maryamah mengangguk
takzim.
Pertandingan papan ketiga yang menentukan dimulai. Maryamah maupun
Matarom seperti tak sabar ingin segera bunuh-bunuhan. Penonton semakin tegang.
Paman berulang kali berbisik pada Maryamah.
“Sikat! Mah, sikat! Jangan cemas. Pak Cik di belakangmu!”
Master Nasional Abu Syafaat ketar-ketir. Mitoha pucat di sampingnya.
Matarom meraup satu momentum ketika berhasil menyambar satu pion.
Sungguh ketat dan berisiko tinggi pertarungan itu, bahkan kehilangan satu pion
langsung membuat sistem Maryamah timpang. Dua langkah berikutnya, raja
Maryamah terapung-apung seperti capung yang tak sadar akan disambar prenjak.
Maryamah tampak kusut. Ia sadar telah melakukan kesalahan fatal. Tanpa
menyia- nyiakan kesempatan, Matarom menggempur. Maryamah berusaha menyusun
formasi Grunfeld Hindia, namun kesulitan karena kerusakan sistemnya cukup parah.
Matarom menyungging senyum remeh. Dalam kepungan yang mencekam Matarom
menggeser sebutir pion. Aku ngeri melihat tindakan itu karena Matarom merencanakan
sebuah kematian yang menghinakan. Ia ingin membunuh raja Maryamah dengan
sebutir pion, seperti ia telah menghancurkan Firman Murtado waktu itu, sekaligus ia
ingin membunuh karakter perempuan yang telah berani-berani menghalanginya
merebut piala abadi 17 Agustus. Sungguh kejam. Lelaki itu memang memelihara Fir aun di
dalam dadanya.
Berikutnya, ibarat papan catur itu kuda, tali kekangnya digenggam Matarom.
Maryamah gemetar saat rajanya dihadang menteri Matarom untuk dipaksa tergusur ke
satu kotak agar raja itu sampai pada sepakan pion eksekutor. Pendukung Matarom,
yang dimotori Jumadi sang pesekongkol, bersorak dan mengejek pendukung kami
dengan menunjukkan tiga jari. Artinya raja Maryamah berumur paling lama tiga
langkah lagi. Aku gugup, rasanya dapat kudengar jantungku berdetak.
Keadaan Maryamah kritis. Kekalahan menari-nari di mata kami. Alvin tampak tak
tega melihat Mak Cik-nya kena bantai. Detektif M. Nur memalingkan muka. Paman
berulang kali menarik napas panjang. Ia seperti ingin sekali membela Maryamah, tapi
tak ada yang bisa ia lakukan. Preman Cebol menunduk. Ia pasti sedang berdoa. Baru kali
ini kulihat Preman
Cebol berdoa. Sambil menyeringai penuh kemenangan, Matarom
menghempaskan menterinya sambil berteriak,
“SEKAK!”
Sekonyong-konyong, dengan gerakan secepat patukan ular, hanya setengah
sedetik setelah teriakan itu, bahkan kaki sang menteri belum benar-benar mendarat
pada posisi tembak, Maryamah melentingkan benteng untuk melindungi rajanya,
crak! Mendadak, raja yang tadi terekspos pada belasan kemungkinan pembunuhan
tahu-tahu tersembunyi. Matarom terperanjat. Pendukung Maryamah bersorak.
Langkah demi langkah salak-menyalak seperti dua ekor anjing galak. Maryamah
mulai menyusun pertahanan khasnya. Matarom tak mau kehilangan momentum. Ia
menyerang berulang kali dan terpental karena formasi perwira-perwira Maryamah
melindungi rajanya seperti fortress geometris pentagon. Dengan lentur konstruksi itu
bisa berubah secara cepat menjadi heksagonal, lalu bujur sangkar berlapis-lapis.
Pasangan benteng kait-mengait tanpa celah sedikit pun untuk diterobos. Grand Master
Ninochka Stronovsky tersenyum.
“Benteng bersusun Anatoly Karpov,” katanya pelan.
Aku teringat cerita Nochka tentang sistem pertahanan dobel benteng ciptaan
juara dunia Anatoly Karpov ketika melawan Calvo di Montila 1976.
Beberapa langkah kemudian, wajah Matarom menjadi pias melihat Maryamah
mulai membentuk satu formasi yang asing. Ia terperangah menyaksikan buah catur
Maryamah terkonfigurasi secara aneh, dan ia ketakutan menunggu serangan dari balik
kegelapan. Maryamah bertindak semakin membingungkan. Para penonton yang
mengerti catur takjub melihat sebuah teknik virtuoso yang tak pernah mereka lihat
sebelumnya. Mitoha dan Overste Djemalam terheran-heran. Aku sendiri tak tahu apa
yang sedang terjadi. Alvin menutup mulutnya dengan tangan. Master Abu Syafaat
menatap papan catur dengan cemas sekaligus terpana. Ia tahu yang dilakukan
Maryamah pasti akan berakibat fatal, tapi ia tak mampu memahami teknik Maryamah
yang sangat ganjil itu, Nochka menoleh padaku tersenyum.
“Guioco Piano,” desahnya dengan nada kagum.
Selanjutnya, Matarom seperti terjebak dalam permainan tali-temali yang
membinasakan. Semakin ia bergerak, semakin ia tercekik. Gerakan buah catur
Maryamah likat dan trengginas mencerminkan masa lalu yang menggiriskan dengan
lelaki di depannya. Setiap strategi yang ia ambil adalah pembalasan atas kesemenamenaan lelaki itu. Setiap langkah
buah caturnya adalah sederajat martabat yang ia kumpul-kumpulkan kembali.
Matarom membalas dengan tekniknya yang terkenal: Rezim Matarom.
Pendukungnya gegap gempita menyemangatinya. Matarom kalap karena nafsu
membunuh telah menguasainya. Papan catur perak menjelma menjadi Laut Cinta
Selatan. Bahtera perompak menyeruak di antara gempuran ombak. Raja berekor
berdiri dengan garang di haluan. Pedang Panglima Kwan Peng menebas leher
prajurit-prajurit Maryamah. Darah mengenang di geladak.
Maryamah memutar haluan. Kedua bahtera terlibat dalam pertempuran maritim
yang dahsyat. Perwira-perwira Maryamah berlompatan ke bahtera perompak.
Menterinya menjadi
admiral, menusuk pinggang kiri raja berekor, persis seperti saran Nochka.
Raja kanibal itu limbung. Rezim Matarom pun terburai. Rezim itu bukanlah
tandingan Guioco Piano. Sebuah strategi Italia kuno yang memiliki daya bunuh yang
kuat. Grand Master Ninochka Stronovsky bukan pula lawan seimbang bagi Master
Nasional Abu Syafaat
Matarom menyerbu lagi dengan putus asa, namun Guioco Piano telah mencapai
titik bunuhnya. Maryamah mengangkat kudanya. Ia bangkit dan menarik selendang
pembatas sehingga bertatapan langsung dengan Matarom. Wajahnya bersimbah air
mata. Dientakkannya kembali sang kuda sambil menjerit: sekakmat!
Meledaklah sorakan pendukung pecatur perempuan yang gagah berani itu.
Paman berteriak-teriak memuji Maryamah. Saking gembiranya sampai ia tak peduli
selangkangnya. Bahtera perompak telah karam, lalu perlahan-lahan tenggelam bersama
keyakinan yang gelap dari pria-pria berpakaian serbahitam di seputar meja tarung.
Menyeret pula ke dasar laut sebuah gunung kebanggaan dari seorang pecatur hebat
bernama Matarom. Dari bengis, wajah kaum pria sahabat iblis itu berubah menjadi
hambar, lalu tak peduli, lalu mencari-cari pembenaran. Dari congkak, wajah Matarom
berubah gamang, lalu malu, lalau terpencil.
Maryamah berdiri dan menatap ke atas. Jiwanya seakan terangkat ke langit. Para
pendukung Matarom berbalik mendukungnya. Bersama dengan pendukung Maryamah
sendiri, tepuk tangan dan siutan-siutan kagum menjadi gegap gempita. Pasar seakan
bergoyang dibuatnya. Sungguh sebuah sore yang takkan pernah dilupakan siapa pun
yang berada di situ. Alvin mengangkat tangannya dengan jari berbentuk victory.
Maryamah menoleh pada Selamot, Giok Nio, dan Grand Master Ninochka Stronovsky.
Mereka tak berkata-kata, tapi hanya saling tersenyum. Selamot dan Giok Nio berulang
kali mengusap air matanya. Perempuan yang sepakat untuk bahu-membahu takkan
pernah terkalahkan.
Matarom tersandar lemas di kursinya dengan mata nanar. Sabuk emas yang
melilit pinggangnya selama dua tahun terlepas sudah. Karmanya telah terhempas di atas
papan catur perak yang selalu diagung-agungkannya. Mitoha dan Master Nasional Abu
Syafaat terpaku. Mereka seperti habis ditabrak angin puyuh. Matarom mengambil
cangklong dari sakunya, berusaha menyalakannya tapi gagal karena tangannya gemetar.
Ia tak dapat memegang korek api dengan benar. Ia membanting cangklongnya.
Cangklong itu berguling-guling menyedihkan di bawah meja tarung.
Di tengah kerumunan ratusan orang dengan cekatan Mahmud berhasil
menerobos dan langsung mewawancarai Selamot. Suaranya timbul tenggelam di antara
sorakan.
“Kakak! Amboi! Pertarungan yang hebat bukan buatan! Maryamah pantas menjadi
juara! Tapi, tentu kami ingin dapat kabar, teknik apa gerangan yang tadi dipakai
Maryamah?”
Selamot terpana mendengar pertanyaan mendadak itu. Otaknya memang tak
didesain untuk sebuah reaksi cepat. Tapi, ia tak hilang akal. Sambil terengah-engah ia
menjawab.
“Wahai sidang pendengar yang mulia … mengenai teknik catur Maryamah tadi …
itulah yang disebut teknik … siapa yang mengisap cangklong, dialah yang akan pusing!”
Cinta Di Dalam Gelas Upload By Ferdinand AndreaHirata
Maryamah
Pada tahun berikutnya, Maryamah kembali menggulung Matarom di final.
Perempuan lain mulai ikut bertanding pada kejuaraan catur peringatan hari
kemerdekaan 17
Agustus. Tak ada penentang dari siapa pun, namun mereka wajib memakai burkak
dan
papan pertandingan mereka tetap dibatasi selendang. Paman adalah orang yang
paling keras memperjuangkan mereka.
“Jangan tunggu anggota DPRD! Mereka hanya sibuk kalau dekat pemilu! Kita
sendiri yang harus bertindak! Main catur adalah hak perempuan yang harus kita
hormati! Anggota DPRD tak berguna! Tak punya perasaan!” teriaknya sambil
menggenggam selangkangnya.
Maryamah tetap menunggu penerbitan jilid selanjutnya dari Kamus Bahasa
Inggris 1
Miliar Kata peninggalan ayahnya. Cita-citanya untuk mengajar bahasa Inggris
tercapai dengan membuat pertemuan untuk siapa saja penggemar bahasa Inggris
di kios ayam Giok Nio setiap Sabtu.
Melalui bimbingan Grand Master Ninochka Stronovsky, Maryamah semakin
menguasai teknik pertahanan benteng bersusun ala Grand Master Anatoly Karpov.
Tahun selanjutnya Maryamah beradu lagi melawan Matarom di final. Matarom
kalah lagi. Maryamah adalah pecatur pertama yang berhasil menjadi juara 3 tahun
berturut-turut. Ia meraih piala
abadi dan setelah itu tak pernah lagi bertanding. Ia terkenal dengan sebutan
Maryamah
Karpov
Novel Cinta di Dalam Gelask Bab 45 Bahasa Indonesia Ini Telah Selesai.
Bagaimana alur cerita dari novel Cinta di Dalam Gelas Bab 45 ini, Menarik bukan? Teruslah ikuti bagaimana perkembangan alur cerita di setiap Bab novel di situs kami, Dan selalu gratis untuk kamu semua.
Kamu juga dapat membagikan link novel ini kepada kerabat atau teman kamu.
Untuk membaca Novel Cinta di Dalam Gelas bab selanjutnya, Mari ikuti arahan Bab yang ada di bawah ini. Jika ingin membaca novel dengan judul yang berbeda, Kamu dapat mendownload dan menginstal aplikasi novel yang sedang trend saat ini. seperti Wattpad, Webread dan yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar